Senin, 20 April 2015

Mengomentari tentang Pemblokiran 22 Situs Islam

Hanya opini (yang semoga saja tidak provokatif)

Bisa dibilang masa pemerintahan Jokowi-JK ini sangat boombastis. Dalam artian selalu heboh, heboh pro-kontra kebijakan. Setelah ramai masalah kenaikan BBM, tunjangan mobil pejabat lalu ada juga tentang pemblokiran 22 situs Islam oleh Kemkominfo (walau akhir-akhir ini sudah bisa diakses). Tentunya tindakan ini menimbulkan reaksi berbeda dari masyarakat, para pakar, dan pemerhati. Ada yang mengecam, ada yang mendukung. Sisanya adalah bersikap moderat. Dari itu, berikut saya sertakan dua dari sekian link website berita online untuk dikomparasikan. Kebetulan link saya dapat berasal dari portal berita terpercaya.


Artikel (atau tepatnya berita) ditulis oleh reporter (entah tetap atau lepas) CNN Indonesia. Dapat diketahui dengan adanya nama sandi di akhir tulisan. Gaya penamaan ini sudah biasa ranah media. Jadi, kredibitas dan identitas penulis artikel dapat dipertanggung jawabkan secara jelas. Selain itu bahasa yang digunakan dalam tulisan ini berimbang dan tidak menuai provokatif. Tulisan dibuat dengan proporsional sesuai berita yang didapat dan mematuhi kode etik pers, jurnalistik dan penulisan. Kebetulan artikel ini menyertakan wawancara dari beberapa orang public figure yang sudah dikenal baik sepak terjangnya. Salah satunya bapak Jusuf Kalla. Tidak Cuma proporsional tapi artikel ini menyajikan berita secara moderat, tentunya dari sudut pandang narasumber. Fakta, begitulah dasar dari artikel ini. Kejadiannya nyata, pun juga dengan komentar narasumber yang didapat secara langsung. Saya sebagai pembaca dapat  memahami artikel ini secara baik. Alur pemberitaannya logis.


Artikel (atau tepatnya berita) ditulis oleh reporter (entah tetap atau lepas) Kompas Online yang namaya tertera jelas diakhir tulisan bersama editor. Sebagai salah satu portal berita kenamaan Indonesia, saya rasa kredibitas dan identitas penulis artikel di Kompas tidak perlu dipertanyakan. Penyaringan konten informasi dan tentunya orang yang menulis artikel pasti telah dilakukan. Bahasa tulisan ini pun baik dan penyampaiannya logis. Cuma, mengingat konsen sumber beritanya adalah pihak Kemkominfo saja, maka terkesan sepihak. Seperti artikel ini Cuma mengambil informasi dari pihak Kemkominfo saja. Meski memang diniati demikian, namun akan berdampak pada ketidak-berimbangan informasi. Pihak Kemkominfo seakan melakukan ‘pembelaan’. Selebihnya, artikel ini juga dibangun atas dasar fakta dilapangan, fakta dari pihak yang bersangkutan.

Komentarku...

Dari sekian banyak link yang saya baca terkait pemblokiran situs Islam, saya termasuk pihak yang tidak setuju dengan kebijakan pemeritah. Dari sekian link tadi saya menyimpulkan bahwa pemerintah terburu-buru mengambil keputusan. Selain itu bisa juga dibilang semena-mena. Dengan melakukan pemblokiran sepihak, pihak Kemkominfo dapa dibilang melanggar hak masyarakat untuk mendapat informasi, mendicerai hak kebebasan berekspresi dan menyalahi undang-undang kebebasan intelektual (intellectual freedom). Padalah kalau kita melihat sekop lebih luas, radikalisme dan terorisme bisa banyak bentuknya. Memblokir situs yang ‘disinyalir’ menyebarkan paham radikal dan teroris, belum tentu menjegal tersebarnya paham tersebut. Selain itu, BNPT yang melakukan penilaian terhadap situs-situs yang dianggap radikal (selanjutnya mereka mengajukan pada Kemkominfo untuk memblokir situs-situs tadi), saya pertanyakana kredibilitasnya. Apakah mereka sudah tahu betul penyimpangan radikal yang ada pada Islam? Apakah latar belakang orang-orang BNPT mendukung hal itu? Pernahkah melakukan rembuk bareng atau diskusi-saran dengan pihak yang kredibel di bidang Islam semisal MUI? Tidak bisa dipungkiri memang rata-rata situs yang diblokir adalah situs Islam. Jangan mengindentikan Islam dengan radikal dan teroris. Agama lain juga bisa tentunya berperilaku sama atau bahkan lebih ekstrem. Saya curiga kebijkan ini didalangi Amerika untuk merusak Islam di Indonesia dari dalam.


Pihak Kemkominfo pun bersalasan sudah melakukan pemblokiran berdasarkan prosedur, merunut kebijakan. Kami tanya, prosedur yang mana pak? Kalau memang sesuai kebijakan, kenapa respon negatif masyarakat akan tindakan ini malah tidak kecil? Kalau untuk kebaikan rakyat, kenapa malah banyak rakyat yang mengecam, tidak setuju kebijakan ini? Lalu, apakah pihak yang diblokir tidak merasa dirugikan? Saya ragu mereka akan menjawab ‘biasa aja’.

Kamis, 16 April 2015

Mengenal tentang TI Dunia Perpustakaan

Bagi banyak orang, mungkin dunia perpustakaan belum telalu familiar di dengar. Dalam artian disiplin keilmuan yang membangun dan tentang tata kelola perpustakaan. Berbeda dengan perpustakaan yang sudah jamak diketahui masyarakat. Dewasa ini, perpustakaan sudah lekat dengan teknologi. Ini selaras dengan kebutuhan pemustaka (pengguna perpustakaan) yang beragam. Perpustakaan perlu expert untuk dapat memberikan informasi yang berkualitas bagi pemustaka. Dari itu, ‘kemudahan akses’ adalah hal penting yang perlu mendapat perhatian serius. Tentunya agar kebutuhan pemustaka dapat terpenuhi dengan baik. Selain itu, perpustakaan konvensional yang segala aktifitasnya berbasis printed biasanya memiliki ritme kerja lebih lama dari perpustakaan yang sudah mengintegrasikan perangkat TI untuk mendukung kegiatan perpustakaan, misal dalam pengelolaan bahan pustaka atau pemberian akses informasi bagi pemustaka.

Ada beberapa hal terkait dengan TI perpustakaan yang menarik diketahui, baik itu berupa software ataupun website. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.

SLiMS (Senayan Library Management System) adalah software pengelola perpustakaan. Aplikasi ini berjalan dibawah browser. SLiMS memiliki berbagai fitur dalam pengelolaan perpustakaan yang sudah dapat dibilang lengkap. Beberapa diantaranya adalah Bibliography (dimana pustakawan dapat menginput ataupun mengedit data koleksi yang ada secara lengkap), Membership (fungsi untuk menambahkan data anggota perpustakaan) dan Circulation (digunakan untuk proses peminjaman-pengembalian koleksi). Selain itu SLiMS dilengkapi dengan fitur OPAC (Online Public Access Catalogue) untuk penelusuran koleksi perpustakaan serta berbagai fitur lain. SLiMS memiliki dukungan komunitas yang luas jadi jika muncul masalah saat mengoperasikan SLiMS, user dapat segera mengajukan keluhan atau pertanyaan pada komunitas SLiMS (contohnya Senayan Library Automation, sebuah komunitas SLiMS di Facebook), dan biasanya member grup yang sudah berpengalaman atau setidaknya pernah mengalami masalah yang sama akan memberi komentar dan solusi. SLiMS bersifat open-source.

Source: http://3.bp.blogspot.com/-vh8mRxIggaU/UteQbs66ViI/AAAAAAAAAec/rrrY2vAUwkA/s1600/Screenshot+from+2014-01-16+14%253A24%253A52.png
Selanjutnya Calibre. Calibre adalah software pengelola e-book yang ringan dan free. Ia dapat mengelola buku digital berdasarkan kategori tertentu dan dapat menambahkan metadata. Selain itu banyak fitur yang lain yang ditawarkan seperti konversi e-book. Software ini dapat membantu untuk mengornisir koleksi e-book. Dengan begitu koleksi e-book akan lebih mudah ditemu kembali karena sudah didasarkan pada kriteria tertentu.

Source: http://i.afterdawn.com/storage/pictures/CALIBRE1.png
Tidak cuma aplikasi namun web yang berhubungan dengan ilmu perpustakaan juga ada. Salah satu contohnya adalah Dunia Perpustakaan.

Dunia Perpustakaan (dapat diakses di duniaperpustakaan.com) merupakan website buatan anak negeri yang menyajikan banyak hal tentang dunia perpustakaan. Ada berita yang berkenaan dengan ilmu perpustakaan, berita kepustakawanan, literasi, buku dan tentang pendidikan. Selain itu ada jurnal dan majala serta berita lain yang diluar perpustakan semisal politik.

Source: http://duniaperpustakaan.com/
Sebenarnya masih banyak informasi lain terkait TI di dunia perpustakaan. namun beberapa ringkasan diatas setidaknya cukup untuk sedikit mengenal ilmu perpustakaan. Semoga bermanfaat. 

Minggu, 12 April 2015

Tentang Hal yang Sering Terlupa; Rasa

Cover Depan Rectoverso
Judul                : Rectoverso
Pengarang       : Dee
Penerbit          : Bentang Pustaka
Cetakan           : VI, April 2014
Tebal               : x + 174 halaman
Harga              : Rp. 55.200,-
Peresensi         : Akmal Faradise

Sekali lagi Dewi ‘Dee’ Lestari melahirkan karya baru, baru dari segi rasa. Rectoverso adalah sebuah perpaduan antara musik dan cerpen. Didalamnya termuat sebelas cerita pendek Dee, yang dua diantara berbahasa Inggris. Kerennya setiap cerpen memiliki lagu yang berkaitan. Karena memang ini karya Dee yang hybrid, ‘Dengar fiksinya, baca musiknya’. Begitulah yang tertulis dihalaman cover belakang, sinopsis yang perlu dibaca.

Dalam Rectoverso, Dee banyak menulis tentang perasaan. Sejujurnya, saya tidak begitu bisa membahasakannya. Sebab tulisan Dee punya sudut pandang berbeda dan akan dipahami ketika membaca tulisannya. “Oh maksud kamu ini ya.. Iya saya paham. Ng tapi maksudnya tepatnya ini apa ya?” Munkin anda juga akan merasa hal yang sama. Simpelnya, Dee menulis tentang rasa. Apa yang dirasakan tentang sesuatu. Dee hadir disana sebagai orang yang merasakan, ia tularkan pada kita dengan tulisannya. Contohnya ada di cerpen berjudul ‘Hanya Isyarat’ yang menceritakan seorang perempuan senang memandangi punggung pria yang dikaguminya. Aneh kan? Enggak juga.

Dari itu, maka jenis tulisan Dee sulit menemukan padanan. Dia hadir dengan karakter tulisan yang khas. Cerita-cerita dalam Rectoverso memang berbasis rasa. Perasaan. Maka setiap karya Dee selalu khas, beda rasa. Selain itu, Dee peka terhadap diksi. Tiap pilihan kalimatnya halus, enak kita baca. Lidah tidak berbenturan menyuarakan. Renyah. Begitulah rasa membaca tulisan Dee.

Secara isi, saya tidak banyak komentar. Karena saya rasa Dee rapih menyampaikan pesan. Pun kalimat per kalimat yang digunakan untuk menyusun sudah bagus. Padat dan jelas. Namun mungkin yang perlu menjadi pertimbangan adalah harga buku. Kualitas kertasnya dibuat bagus, cover dibuat elit dan didalamnya terlalu banyak gambar yang menghabiskan halaman. Representasi isi memang perlu tapi tidak kelewatan. Akhirnya, hal ini berdampak pada harga buku yang mahal.


Selebihnya, Rectoverso layak untuk menjadi koleksi anda. Dalam segi isi sudah bagus dan kredibilitas penulis tidak perlu dipertanyakan. Cuma, apakah harga adalah pertimbangan yang penting bagi anda? Jika iya, silakan berpikir ulang.