Rabu, 29 Oktober 2014

Kalijaga Creative Festival (KCF), Ajang Seru-seruannya Anak UKM

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 25-28 September 2014

Dimulai dari kamis, 25 September, Forum Komunikasi Unit Kegiatan Mahasiswa (FORKOM UKM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengelehat sebuah kegiatan, Kalijaga Creative Festival (KCF). Acara ini merupakan sebuah  ajang untuk memperkenalkan seluruh mengenalkan seluruh UKM yang ada di lingkungan kampus UIN Sunan Kalijaga kepada masyarakat kampus utamanya mahasiswa baru. KCF merupakan kegiatan tahunan UKM. Dulu, keigatan ini lebih lumrah dikenal dengan UKM Expo. KCF kali mengambil tema ‘Nandur Kreasi Ing Makerti’. Menumbuhkembangkan kreasi dengan eloknya budi pekerti.

Lokasi KCF bertempat di depan polikliknik. Kegiatan ini memakai seluruh halaman depan depan. Tiap UKM mendirikan satu stand. Stand tersebut memamerkan berbagai prestasi yang telah diraih oleh UKM yang bersangkutan. Selain itu juga tersedia dokumentasi kegiatan UKM dari waktu sebelumnya. Para pengunjung bisa bertanya banyak hal tentang UKM yang menarik perhatiannya dan bisa menjadi bagian dari UKM tersebu. Bisa dibilang, kegiatan KCF juga sebagai ajang promosi UKM untuk menggaet anggota baru.

Terdapat gapura yang terletak di depan pos satpam sebagai pintu masuk area KCF. Ada juga photospot buat mereka yang tertarik untuk mengabadikan moment. Lalu panggung utama sebagai pusat kegiatan.

Panitia yang menghandle kegiatan ini adalah gabungan dari anggota tiap UKM. Hal ini bertujuan untuk merekatkan silaturrahim antar UKM, menghimpun panitia hebat dari tiap UKM untuk menyelenggarakan kegiatan dan meningkatkan partisipasi tiap UKM dalam melakukan kegiatan bersama.

Yang paling menarik dan juga penting adalah adanya performance(penampilan) dari masing-masing UKM untuk menarik massa. Tentunya sesuai basic UKM tersebut. Seperti UKM Taekwondo yang mendemostrasikan gerakan-gerakan dan orkes musik al-Jamiah.


KCF ditutup pada tanggal 28 September.

Jumat, 24 Oktober 2014

Intip Isi Buku? Pakai Bookist!

Kecewa saat membeli buku? Buku yang anda beli tidak sesuai harapan? Apalagi, uang yang digunakan adalah yang terakhir. Hal ini sering kali terjadi mengingat tidak semua sinopsis buku memberikan kejelasan isi.
            Nah kesulitan tadi yang menjadi inspirasi dari Meganingtyas dan Eka Legya Frannita  dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dua mahasiswa Teknologi Informatika UNY tersebut menciptakan aplikasi guna mempermudah masyarakat untuk mengetahui isi buku yang akan dibeli. Aplikasi tersebut memanfaatkan teknologi Augmented Reality atau biasa disebut AR. Teknologi tersebut memungkinkan pengguna merasakan pengalaman digital sedekat mungkin. Teknologi AR tersebut merupakan gabungan dari obyek virtual dan obyek nyata yang bersifat interaktif atau animasi 3D. Bahkan aplikasi ini meraih juara I pada Lomba Rancangan Perangkat Lunak di Universitas Kristen Satya Wacana beberapa waktu lalu.
Bagaimana cara kerjanya? Pengguna tinggal menyorotkan smartphone ke cover atau katalog buku. Kemudian aplikasi akan menampilkan sinopsis atau review buku baik berupa video maupun tulisan. Sekarang duo Meganingtyas dan Eka Legya Frannita sedang mengembangkan fitur penjualan. Jadi, setelah mengetahui sinopsis atau review buku, pengguna bisa membeli langsung dari perangkat mobile. (Al.F)

Disarikan dari http://kampus.okezone.com/read/2014/03/27/372/961802/pakai-bookist-bisa-ngintip-isi-buku diakses

Sabtu, 18 Oktober 2014

Hal Aneh di Sekitar Kita

“Aku paling kesel sama nama-nama akun sosial. Contohnya Facebook. Di Facebook banyak nama-nama yang ngeselin. Biasanya nih yang pakai nama kayak gini anak ABABIL. Contohnya kaya Sang Pejuang Cinta, Cewek Imoet (yah enggak tahu bacaannya kaya gimana, enggak sesuai EYD soalnya) atau Cowok Setia. Pokoknya gitu deh. Tapi aku pengen tahu nama akun FB koruptor itu kaya apa yah? Apa mungkin Sang Pemakan Uang Rakyat atau Tikus Bermercy atau Pejabat Penuh skandal. (Kali aja begitu)”.

---

“Katanya Indonesia negara hukum. Tapi hukum Indonesia murah dan dapat dibeli dengan uang. Semurah kayu arang di pasar tanah abang. Pancasila yang katanya ideologi bangsa tidak dipakai oleh para pejabat (emang aku menjalankan isi Pancasila ya?). Tindakan pejabat kita menodai keluhuran Pancasila (bahkan harus dicuci pakai detergent biar nodanya hilang). Ketuhanan yang MahaEsa berubah menjadi keuangan yang maha kuasa, kemanusian yang adil dan beradab jarang dijumpai daripada kemanusiaan yang bedil dan biadab. Akhirnya yang terjadi malah perpecahan Indonesia! (moga aja aku enggak kualat karena bikin materi tentang Pancasila –ngelus dada-, pak Karno maaf yah.. Cuma bercanda kok -mendongak-)”.

---

“Menurutku di Indonesia penyebutan daginga sapi itu aneh, Cuma di sebut daging. Bener enggak? Padahal daging adalah bagian tubuh hewan dan hewannya bisa berbeda kan? Buktinya pas aku ke pasar buat beli daging mentah, penjualnya kebetulan tante,”
“Bu, ini daging apa yah?” (nunjuk kiri)
“Daging ayam”
“yang ini?” (nunjuk tengah)
“daging kambing”
“dan yang ini?” (nunjuk kanan)
“daging” (berlagak bingung)
“daging apa?” aku nanya lagi
“ya daging... daging” (loh?)
“jadi beli dik?” tantenya nanya
“enggak bu Cuma nanya” terus aku cabut. Soalnya enggak bawa uang
Lima belas menit kemudian aku balik lagi, bawa uang tentunya. Tapi kali ini yang jaga kaya anak SMA gitu, mungkin anaknya
“ini daging apa mbak?” (nunjuk kiri)
“ayam”
“yang ini” (nunjuk tengah)
“daging”
“kalau yang ini?” (nunjuk kanan)
“daging ayam” (loh?)
“mau beli mas?”
“enggak mbak. Kunci motor saya ketinggalan”

Dan yang bikin aku heran, materi ini lucu enggak sih?