Selasa, 26 Mei 2015

IDKS 2015: Sebuah Tanggung Jawab dan Sepaket Kesenagannya

26 Mei, menanti 27 Mei 2015

Saya jadi penanggung jawab kegiatan. Sudah. So, it’s my little story...

Dalam perkuliahan semester 4, ada mata kuliah yang bernama IDKS (Informasi dalam konteks sosial). Sepahamku sih adalah kaitannya informasi di ranah sosial. Entah itu masalah diseminasi informasi atau etika informasi. Keren dan seru, kesanku begitu.

Nah, mata kuliah ini punya tugas akhir berbentuk pameran. Sejauh ini bertema dan diadakan setiap tahun. Kali ini temanya dolanan tradisional anak. Lalu singkat kronologi, saya pun menjadi penanggung jawab atas kegiatan ini, dengan berbagai keadaan tentunya. Bersama beberapa orang, kami memulai hari pertama dengan cukup baik.

Dekan fakultas Adab dan Ilmu Budaya yang baru, bapak Zamzam Afandi membuka kegiatan pagi tadi. Bertempat di gelanggang teater Eska, anak IP pun membuat suasana seru.

Konsep kegiatan ini adalah stand. Semua kelompok membangung stand mereka sendiri mengelilingi gelanggang. Tentuanya, kreasi stand akan berbeda-beda bentuk, pun juga dengan apa yang akan ditampilkan, tergantugn permainan yang diambil.

Ada sepuluh stand, delapan untuk kelompok IDKS sementara dua adalah stand dari prodi, baik S1 dan D3. Stand prodi menampilkan karya kreatif anak IP. Sedang stand kelompok IDKS memiliki warna yang lebih beragam. Ada stadn yang menampilkan permainan cublak-cublak suweng, jamuran, mainan dari bambu bahkan ada yang jelangkung. Stand saya sendiri mengangkat permainan engklek atau sonda. Tiap stand menyediakan souvenir yang beragam. Bisa semacam mainan, kerajinan tangan atau makanan. Sisanya adalah brosur singkat tentang permainan (memuat sejarah, cara main dan filosofi permainan yang diangkat). Ada juga yang membuat video tutorial. Yang paling penting adalah semua falitas tersebut GRATIS! Camkan!

Sekitar satu jam, tiap stand berhak untuk mendemosntrasikan stand. Tepatnya menjelaskan permainan apa yang mereka angkat. Plus hal ini juga mempromosikan stand.

Acara yang lain adalah show and tell competition. Lomba ini berupa presentasi individu akan hal yang ada di perpustakaan. Satu obyek dijelaskan dengan detail. Dan terpenting menggunakan bahasa Inggris. Saya juga berpartisipasi sebisanya. Anggap saja menggugurkan kewajiban. Hahaha... Ada sebelas peserta yang maju, terdiri dari anak S1 dan D3, terbagi pada anak cowok dan cewek. Jurinya adalah ibu Labibah dan Ibu Marwiyah.

Selepas lomba, kami memberlakukan jam bebas. Tiap stand boleh menampilkan bakat tiap anak. Apapun itu. Seru, jadi tadi tiap stand berbeda penampilannya. Ada yang nari, baca puisi pun juga nyanyi. Pada intinya adalah kami semua tertawa, melepas penat disela pundak.

Sore hari acara berakhir, kami istirahat dan juga shalat. Free, tinggal menunggu esok hari. Setidaknya anaka cewek boleh pulang, tapi yang cowok menunggui gelanggang. Dari malam menjelang hingga pagi usai.

Kalian tahu apa yang mereka lakukan. Tidur. Jaga barang. Main kartu. Main bola. Hahaha. Pokok e melepas lelah, penat dan ruwet. Karena besok masih hari terakhir pameran.

Dan apa kalian bingung kenapa saya cerita begini? Saya cuma kasihan pada kalian. Takutnya mau enggak datang ke pameran. Tak kandani, bakalan nyesel deh kalau enggak datang. Seru kok... gratis dan terbuka untuk umum...

#IDKS


My Grup. Kalian terbaik!
Source: Dok. Pribadi

Sesi Show and Tell
Source: Dok. Pribadi

Minggu, 10 Mei 2015

Copy Right dan Rasa Menghargai

Copyright itu bahasa Inggris kan? Dengan tanpa melihat kamus, saya bisa mengira artinya. Copy itu menggandakan dan Right itu benar. Jadi Copyright itu menggandakan dengan benar. Iya kah? Tapi kok enggak pas ya? Baiknya kita merujuk pada definisi saja, yang bahasa Indonesia agar mudah. Dalam bahasa Indonesia copyright lebih dikenal dengan hak cipta.

Menurut UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Jadi kalau kita tarik ke bidang karya yang bentuk tulisan, maka penulis memiliki hak milik pada tulisan yang dia karyakan.
Source: http://www.finearttips.com/wp-content/uploads/2011/02/copyright1.png
Selama hidup di Yogyakarta, saya jadi sering ke perpustakaan. Ya selain karena kebutuhan referensi, juga agak keder kalau anak IP jarang ke perpustakaan. Haha... Eh, fokus. Fenomena yang saya temukan adalah kadang ada koleksi perpustakaan yang merupakan hasil fotocopy, digandakan. Kalau merujuk pada kepada hak cipta, seharusnya hal itu tidak diperbolehkan. Hal itu termasuk kejahatan intelektual. Untuk menghargai penulis, seharusnya siapapun yang ingin memiliki karya dari penulis tertentu (secara umum buku) layaknya adalah membeli buku tersebut, bukan menggandakan. Ini selaras dengan konsep royalty di penerbitan.

Namun, menjadi masalah bila ternyata buku tersebut sudah langka dan tidak dicetak atau tidak diterbitkan lagi. Maka metode membeli untuk mendapatkan koleksi tidak dapat dilakukan, baik oleh pribadi atau instansi (misal perpustakaan). Dari itu, penggandaan buku dilakukan. Patokannya adalah koleksi tersebut sudah langka dan tujuannya untuk pendidikan, bukan komersil. Sedikit yang saya tahu hal ini diperbolehkan meski melanggar hak cipta. Karena pertimbangan kebutuhannya lebih besar.

Saya pribadi, akan merasa ‘tidak rela’ jika hasil karya saya kurang dihargai. Dalam artian begini, saya sudah susah nulis buku, diterbitkan, distribusi. Tapi ada juga dari segelintir orang yang menggandakan, tidak membeli. Sisi matrealistik pada diri saya pasti akan merasa begitu, ada bagian di sudut hati yang akan menyuarakan demikian. Hal yang saya bisa saya lakukan bukan menuntut, tapi berusaha mengingat apa yang dilakukan ulama salaf. Mereka menyebarkan ilmu secara cuma-cuma, tidak mempermasalahkan royalty dan hak cipta. Kebesaran hati adalah solusi menghilangkan kegundahan tadi. Cuma, apakah orang lain paham hal demikian?

Kemungkinan besar sih tidak. Kebanyakan pasti keberatan hasil karya yang mereka susah buat digandakan dengan mudahnya. Saya kadang berpikir, hak cipta bagus di satu sisi untuk melindungi karya, namun disisi lain semacam menumbuhkan ketidak-ikhlasan menyebarkan ilmu tuhan.

Pelanggaran hak cipta bukan cuma pada penggandaan. Jika anda menulis makalah tanpa menyebutkan sumber padahal anda merujuk pada karya orang lain, hal itu juga melanggar hak cipta. Dalam tulisan Laura Fargo McKinnon dan Kris S. Hedge berjudul ‘Copyright, open access and library instruction’, dengan merujuk pada The Copyright Act, tertulis bahwa segala karya yang diciptakan pengarang adalah miliknya. Jadi penggunaan karya dari seorang pengarang harus mendapat izin dari pengarang terkait. Dalam kasus pemanfaatan sumber, siapapun yang merujuk tulisan seseorang harus memberi keterangan rujukan pada sumber asalnya. Misalnya dengan pemberian daftar pustaka dan note. Ini yang disebut dengan komunikasi ilmiah yang formal.

Akhirnya, semua kembali pada bagaimana cara kita menghargai seseorang dan karyanya. Jika memang punya uang untuk membeli buku (sebagai rujukan misalnya), baiknya beli saja. Catatannya adalah barang masih mudah didapat. Dan saat membuat makalah misalnya, sertakan sumber rujukan yang diambil. Setidaknya itu penghargaan kecil yang bisa dilakukan.


Saat kita belajar menghargai karya, kelak karya kita juga akan dihargai.

Sabtu, 02 Mei 2015

Ke Rumah Budaya Tembi

30 April 2015 senada dengan 11 Rajab 1436

Habis acara bedah buku aku masih harus survey nih. Ya untuk memenuhi tugas mata kuliah KLAJ. Tujuannya adalah rumah budaya Tembi, di daerah Sewon Bantul. Selepas shalat, teman-teman berkumpul di depan poliklinik. Aku bareng Almer, Riffa sama Juki, lalu Imam membonceng Khabib. Berenam kami menyusuri jalanan Yogkarta, berderap di bawah langit mendung dengan kuda besi.

Rumah Budaya Tembi dapat ditempuh kurang lebih 40 menit. Tinggal kita susuri jalan Parangtritis, melewati ISI (Institut Seni Indonesia) dan dengan satu kali belok kiri sampailah di tujuan. Cuma, realita perjalanan kami tak semudah seperti apa yang kutulis. Ban motor Almer kempos, jadi agak terhambat sampai ke lokasi. Walau akhirnya tetap menginjakkan kaki di lokasi. Singkatnya, kami langsung mewawancari pengelola perpustakaan.

Namanya bu Eta, panggil saja begitu. Beliau cuma sendiri di perpustakaan. bagiku itu cukup berat mengingat banyak yang perlu di lakukan semisal inventarisasi dan pengolahan. Padahal buku lumayan banyak, ada sekitar 6000 ekselempar, eh eksemplar. He

Buku-buku disana adalah buku lama. Ada pula manuskrip Jawa kuno. Subyeknya rata-rata bahasa, sastra dan budaya. Tidak cuma dalam bahasa Jawa, ada pula koleksi berbahasa Belanda dan German.

Bagiku, tugas paling berat bu Eta adalah preservasi koleksi ini. Sebab, koleksi lama sangat berharga. Bisa saja koleksi tersebut sudah tidak dijumpai lagi di pasaran (ya iya lah). Juga karena berharga, maka dibutuhkan oleh orang banyak. Jadi banyak yang datang ke perpustakaan ini untuk sekedar cari referensi. So, tantangan bu Eta sebenarnya adalah mengupayakan koleksi awet agar tetap bisa diakses lebih lama, musuhnya adalah tangan-tangan jahil.

Yah begitu hal yang kecil yang bisa saya tulis. Semoga perpustakaan Rumah Budaya Tembi kedepan makin sip.


* ini tulisan jelek saya yang keberapa ya?

Cuplikan Peprustakaan Rumah Budaya Tembi - Source: Dok. Pribadi

Contoh Koleksi Lama - Source: Dok. Pribadi