Kamis, 02 Juli 2015

Dan Kutemukan Cahaya

29 Juni 2015 senada dengan 12 Ramadhan 1436

“Ok semua desainnya udah. Hm tinggal kirim ke e-mail mereka” pemuda itu pun meregangkan tubuhnya. Sudah dua jam dia berada di depan monitor, menyelesaikan pekerjaannya.

“Ng, ku simpan dimana ya alamat e-mail pak Hamid?” dia mencari iPhone-nya. Membuka notes yang menyimpan seluruh daftar alamat e-mail klien.

Dia tersenyum. “Ini dia”. Lalu pemuda itu mengetikkan alamat e-mail. Di akhir surel ia membubuhkan penutup:

Terima kasih atas kepercayaan anda untuk menggunakan jasa kami.
Salam hangat,

Afif Creative

“Wah udah jam 09.15. Pantes laper haha... Ok, cari makan dulu. Ng tapi dimana yah?” Afif berhambur keluar rumahnya.

Sejatinya dia cukup bingung untuk mencari makan dimana. Sebab bulan ini Ramadhan telah tiba. Sudah berlalu empat hari. Tentunya banyak warung makan yang menutup gorden siang hari, menghormati mereka yang sedang menahan lapar-dahaga. Meskipun tempat Afif tinggal bukan kompleks muslim, namun semua saling menghargai peribadatan.

“Ah mau masak belum beli bahan. Di dapur adanya cuma mie instan doang. Males dah” keluh Afif. Namun tiba-tiba sinar matanya berubah. Di depan rumahnya kebetulan ada tukang bakso lewat. Anggap saja tukang bakso nakal.

“Bang tunggu... Bakso seporsi!” kejar Afif setengah berteriak. Ia menghapiri abang bakso. Rombong itu berhenti, tepat di samping rumah Afif yang terdapat pohon mangga tanpa buah.

“Bungkus apa disini dek?” tawar abang bakso.

“Bungkus disini. Ntar aku makan disana” Afif memasang ekspresi usil sembari menunjuk rumahnya. “Ok” si abang bakso dengan sigap menyiapkan pesanan.

“Bang bakso juga ya. Dua porsi dibungkus” tiba-tiba ada dua remaja putri, tetangga Afif, juga datang membeli bakso. Mereka berpakaian rumahan, sedikit minim dan tanpa kerudung. Afif mengenali mereka, Bella dan Rika. Rumah mereka berada 20 meter dari arah timur rumah Afif. Rumah mentereng, besar dan luas. Maklum orang tua mereka pebisnis sukses. Dan kristiani yang taat.

“Beli bakso juga bang?” Bella bertanya pada Afif.

“Iya nih dek. Laper hehe” Afif menjawab sekenanya.

“Loh enggak puasa bang?” kali ini Rika yang bertanya.

“Enggak haha. Males” Afif nyengir panjang.

“Ah abang ini” Bella dan Rika hanya geleng-geleng kepala.
Pesanan Afif sudah selesai. Dia mengeluarkan uang dari saku celananya dan membayar dengan uang pas. “Makasih bang” Afif berlalu. “Bye Bella, Bye Rika” salam Afif.

“Ya abang..” keduanya menjawab kompak. Sebelum Afif benar-benar jauh dari mereka, dia sempat mendengar Bella dan Rika berbisik.

“Kasihan ya bang Afif. Padahal dua tahun yang lalu, pas kita masih SMA, dia muslim yang taat loh” bisik Rika pada Bella.

“Iya aku juga kasihan sih tapi ya mungkin itu pilihannya. Mungkin dia punya alasan. Eh ngomong-ngomong bang Afif kerja apa ya? Perasaan aku enggak pernah melihat dia kerja. Tapi bisa memenuhi kebutuhan harian dan ngurus rumah” Bella menimpali.

“Aku penasaran sih” detik berikutnya, Bella dan Rika bisu dalam kebingungan.

Afif mendengar hal itu. Dia punya telinga yang tajam. Namun dia enggan menanggapi dan hanya tersenyum. Dalam hatinya “Kalian tidak akan pernah tahu dan tidak akan pernah paham siapa aku sebenarnya”. Kriit... Afif menggeser gerbang depan rumahnya, sedikit lebih rapat.

###

Di dalam rumah, Afif menikmati makanannya. Dia hanya sendiri disana, tak ada orang lain. Namun itulah yang dia suka. Kesendirian membuatnya bisa lebih menikmati hidup. Dan lagi ia jarang bersosial. Kerjanya tiap hari hanya menyelesaikan orderan desain, jika ada. Walau bisa dibilang selalu ada. Dari situ, dia bisa mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan. Bayarannya besar. Sebab klien Afif biasanya merupakan perusahaan atau orang-orang kaya. Tidak hanya dalam negeri, bahkan kliennya juga dari luar negeri. Bisa dipastikan, rekening Afif sedang gendut. Dia punya stok bahkan untuk sepuluh tahun kedepan. Orang se-kompleks tak ada yang tahu bahwa Afif begitu kaya. Sebab ia bekerja secara underground;  mendesain, entah itu logo, pamflet atau apapun itu, tanpa dilihat banyak orang.

Afif tipe yang jarang bosan. Rutinitas hariannya yang monoton tak pernah mengganggunya. Jika dia merasa bosan. Dia akan keluar, jalan-jalan dan mencari suasana baru. Hal yang ia lakukan sesekali, tidak begitu sering.

“Ah kenyang” ia sudah menyelesaikan sarapan siangnya. Jam menunjukkan pukul 10.00. Masih belum sampai waktu tidur siang. Namun, ia merasa sangat mengantuk. Diliriknya sofa ruang tamu. Entah kenapa terasa menggoda. Aslinya, Afif enggan langsung tidur selepas makan. Khawatir kencing manis. “Eh tapi kalau enggak sering kayanya boleh deh”. Dia pun terlelap di sofa.  

Dan mimpi-mimpi terus berganti di kepalanya.

###
/1
“Afif yang sabar yah. Ayah dan ibu kamu insyaAllah mati syahid nak. Sabar yah. Ada bibi dan paman disini”. Afif kecil sudah menjadi yatim piatu. Ayah dan ibunya kecelakaan dalam perjalanan pulang dari tanah suci.

“Nak, paman dan bibi akan membiayai pendidikan dan semua kebutuhan kamu. Kami akan menjadi orang tuamu” Afif didekap oleh mereka. Paman dan bibinya. Si bibi adalah kakak dari ayah Afif. Keduanya begitu sayang pada Afif. Ditambah lagi, mereka tidak bisa memiliki keturunan.

Hati Afif sebenarnya sakit waktu itu. Kehilangan orang tua pada usia belia sangat membuatnya bingung. Tapi dia tidak menangis. “Tugasku bukan menangis tapi belajar dan berdoa. Untuk kebagahagiaan kedua orang tuaku” begitulah komitmennya.

/2
“Alhamdulillah nak kamu sudah lulus. Terbaik lagi. Kami bangga sekali” paman dan bibinya, atau lebih tepatnya orang tua, mendekapnya penuh haru.

Hari itu, kampus ITB menjadi saksi keberhasilan Afif. Seorang anak yatim piatu yang telah besar dan sukses dalam jenjang pertama pendidikannya. Gelar sarjana sudah dia kantongi. Selanjutnya adalah bagaimana menafkahi hidup dengan bekerja. Berusaha mandiri, untuk tidak bergantung pada paman-bibinya.

/3
“Bi, yang sabar ya bi. Bibi berdoa saja, semoga paman diterima disisi-Nya. Paman orang baik bi. Insyaallah bisa mendiami surga-Nya” Afif menangkan bibinya yang larut dalam air mata karena ditinggal sang suami. Paman Afif, meninggal dalam insiden lalu lintas.

Kala itu, Afif pernah mendengar kabar burung. Kematiannya pamannya di rekayasa. Ada oknum yang dicurigai atas hal itu. Karena kurang bukti, kasus tidak dapat diusut lebih dalam. Afif geram sebenarnya. Cuma dia memilih bersabar.

/4
Pukul 02.00 pagi. Afif bangun, menuju kamar mandi, berwudhu lalu menunaikan qiyamul lail. Sedang bibinya ada di dapur. Mempersiapkan makan sahur.

“Aaaaa... “tiba-tiba bibinya berteriak histeris. Terkejut, sontak Afif menuju dapur. Dan betapa terkejutnya dia mendapati bibinya bersimbah darah. Di jendela dapur, tampak seseorang berusaha keluar. Ia berpakaian serba hitam, sarung menutup mukanya, dan menggendong tas yang sepertinya berisi barang curian dari rumah ini. Maling. Dia menoleh kepada Afif.

“Woi!!! Bre****k!!” refleks, Afif mengambil gelas kaca dan melemparkannya pada maling tadi dengan keras. Tar... Lemparannya mengenai kepala maling itu. Ada noda darah yang mencuat darinya. Namun ia berhasil lolos.

/5
Di pemakaman bibinya dia menangis sedu. Kuburan baru itu berselebahan dengan kuburan orang yang lebih dulu meninggal, kubur suaminya. Puasa Afif otomatis batal. Tangisnya sudah terlalu. Untung disana tidak ada orang, jadi ia menumpahkan segala air matanya, yang dia simpan dari dulu.

“Bi... Kenapa ini terjadi bi? Kenapa bi?” Afif kekurangan kata untuk mendeskripsikan perasaannya. Dia menoleh pada kubur pamannya. Lalu teringat ketika kedua orang tuanya meninggal.

Dua hal yang dia pikirkan waktu itu. Tanggal kematian dan rasa percaya. Tanggal kematian orang tuanya, paman dan bibinya sama. Hari Jumat tanggal 13. Tahun dan bulannya berbeda. Entah kenapa dia merasa kesal dengan tanggal tersebut.

Lalu entah kenapa, karena kasus paman dan bibinya, ia jadi semakin malas bersosial. Mengurung diri menjadi kerjaanya setiap hari. Ramadhan kali itu begitu membuatnya berduka. Kehilangan bibi tercinta, yang dia anggap ibu sendiri, secara tragis di depan mata memberinya beban psikologis tersendiri. Semakin lama, puasanya tidak beraturan. Ibadahnya semakin longgar. Ia mulai merasa malas. Sangat.

###

“Ah!” Afif bangun tersentak dari tidurnya. Mimpinya yang berfragmen membuatnya berkeringat dingin. Mimpi tentang masal lalunya yang menyakitkan. Di luar, adzan menggema.

“Mungkin karena adzan itu aku bangun”. Dia melirik jamnya “Ng jam dua belas? Oh ya hari ini jumat yah”. Afif bangun dari sofa dan menuju kamar mandi. Bukan untuk berwudhu atau apa. Hanya sekedar untuk mencuci muka. Di kamar mandi dia bertanya-tanya “Kok aku bisa mimpi seperti itu ya? Sudah dua tahun bibi meninggal. Baru kali ini perasaan”

Dari kamar mandi, Afif bingung mau apa. Jumat terkesan tidak menyenangkan baginya. Ia melirik kalender. Hari ini tanggal 13 Juli. “Sial. Kena Jumat lagi. Ugh”.

Afif memilih membaca di kamarnya. Kebetulan hari itu dia belum membaca. Ia duduk di meja belajar dengan sebuah novel di tangan. Baru beberapa halaman. Dia berhenti. “Kok aku jadi kepikiran shalat ya?”

###

Bosan. Afif berjalan keluar. Di halaman rumah, yang bisa menjadi lapangan basket mini, ia bermain sendiri. Latihan dribling dan shooting. Basket adalah olahraga yang dia suka dari kecil. Bahkan pernah ia tekuni saat di SMA dan saat kuliah.

Meski siang, halaman rumah Afif memiliki atap. Sangat nyaman. Ia tidak kepanasan saat bermain basket. “Long rage shot..” teriaknya. Bola melambung dan deng..  Entah kenapa kali itu tidak masuk, membentur ring. Padahal Afif termasuk jago bermain basket. Bola tadi pun terlempar keluar pagar. Afif keluar halaman untuk memungutnya.

Dari jauh, Afif melihat perempuan berbaju pink nampak kebingungan. Dia menggendong tas punggung yang cukup besar. Tangan kanannya memegang selembar kertas. Sedang yang kiri menjinjing kardus ukuran sedang. Perempuan itu tampak sedang mencari alamat. Saat melihat Afif, ia berlari menghampiri. Dengan muka penuh harap dia berkata “Mas, boleh tanya enggak? Tahu alamat ini?”. Ia menyodorkan kertas itu.

“Hm... ini sudah dekat mbak” kata Afif. Ia mengenali alamat itu. “Nah, mbaknya tinggal lurus aja. Nanti sekitar tiga puluh meter akan ada perempatan. Lalu mbak belok kanan. Ada rumah bercat biru, nah disitu tempatnya”. Terang Afif panjang lebar.

“Rumah bapak Lathif bukan mas?” perempuan itu kembali bertanya.

“Iya mbak betul. Itu rumah bapak Lathif, rumah pak PT komplek ini. He” Afif nyengir.

Afif memperhatikan perempuan itu. Dari wajahnya, Afif tidak mengenali orang itu. Ia baru melihatnya hari ini. Mungkin bukan penduduk kompleks. Di mata Afif, perempuan itu cantik sekali. Setelah sekian lama, rasa itu mulai menumbuh kembali. Rasa yang biasanya kita sebut dengan ‘suka’. Pertama dan terakhir kali, dia merasakan hal itu pada Vika, teman sekelasnya yang kini sudah membina rumah tangga.

Perempuan itu mengenakan kacamata. Wajahnya dewasa, teduh dan sayu. Kulitnya kuning langsat. Posturnya bagus sekali. Secara fisik sangat proporsional. Dia mengenakan stelan baju pink, rok berwarna abu-abu dan kerudung pink yang bermotif bunga. Dia sangat baik dalam berhijab. Penampilannya rapih menutup aurat, tapi sangat kelihatan stylish dan elegan. Cara bicaranya pun halus dan sopan. Dari penglihatan Afif, dia tahu bahwa perempuan ini jauh lebih muda darinya. Sekitar dua sampai tiga tahunan. Afif tertarik dan penasaran. Ia mencoba bertanya.

“Emang mbaknya ada perlu apa ya sama pak RT? Oh ya, mbaknya bukan asli sini ya?”

Dengan tersenyum wanita itu menjawab “Oh ya mas saya bukan asli sini. Saya baru pindah kesini hari ini. Dan pak RT yang mas maksud itu ayah saya. Ayah baru pindah kesini tahun lalu kan mas? Kebetuluan waktu itu aku masih kuliah dan belum sempat berkunjung kesini. Nah sekarang aku udah lulus, jadi boyongan mas dan akan tinggal disini. Begitu” ia bercerita panjang lebar.

Ha? Anak pak RT? Kok aku baru tahu? Perasaan cuma Thufail sama Athifa deh. Apa dia yang paling tua ya? Baru tahu gua” batin Afif.

“Oh ya mas makasih banget yah udah ngasih tahu rumah ayah” lanjut perempuan itu. “Mas tinggal disini kan? Kapan-kapan aku bakal main deh. Eh iya, kenalin nama Aku Lidya. Kita tetangga-an kan? He” kata Lidya dengan ceria, tanggannya sudah terlipat di dada. Salam sungkem.

“Eh iya sama-sama mbak. Biasa aja. Oh aku Afif. Perkenalkan” Afif membalas salam sungkem Lidya.

Afif tahu betul rumah pak RT. Dan bahkan tidak akan lupa, berkat kejadian tahun lalu. Waktu itu, dia diadili warga sekompleks karena diduga melakukan tindakan teroris. Hal ini wajar saja karena Afif jarang keluar rumah dan kurang sekali bersosial. Seluruh bagian rumahnya diselidiki namun warga tidak menemukan apapun. Tentu saja karena Afif memang tidak melakukan apa-apa. Akhirnya dia dibebaskan, walau beberapa warga masih menaruh curiga. Sisanya, hanya geleng kepala dan bisu dalam kebingungan. Saat Lidya menyebut nama pak RT, syaraf ingatannya secara otomatis membawa Afif pada kejadian kala itu. Kejadian itu sangat ia benci, dan ia tutup rapat dalam ingatannya.  Cuma, entah kenapa ia tidak merasa marah meski secara tak sengaja Lidya membangkitkan kenangan pahitnya itu.

“Ok kak Afif aku pamit dulu yah. Keburu udah mau ketemu keluarga nih. Daaah...” Lidya berlalu dan melambaikan tangan. Tapi yang Afif ingat hanya senyumnya yang hangat.

Afif memasuki rumahnya. Kala itu, ia merasakan hal baru. Lidya, entah kenapa menyita perhatiannya dengan sangat. Ia tersenyum tanpa sebab.

Lalu, adzan ashar berkumandang. “Ng, kok aku jadi pengen shalat ya? Ah okelah. Mandi dulu baru shalat”. Ia menuju kamar mandi.

Semenjak kehilangan bibinya, Afif jadi jarang sekali shalat. Bahkan hampir tidak ada. Entah kenapa dia jadi malas sekali. Dalam setahun belakangan, shalat hariannya bisa dihitung jari. Per bulan bisa hanya sepuluh kali. Shalat jumat pun jarang-jarang. Apalagi puasa. Jebol, dan berlanjut ke hari ini. Ia kehilangan semangat beribadah.

Namun kali ini berbeda. Entah kenapa, Afif ingin melakukan shalat lagi. Mungkin hidayah-Nya sudah menyentuh hati yang kering. Mungkin Lidya-lah yang menjadi perantaranya. Inner beauty Lidya, sisi bercahaya seorang muslimah, telah menerangi nuraninya yang terlalu lama gulita.

“Allahu Akbar..” di mushalla rumahnya, ia kembali mengucapkan takbiratul ihram setelah sekian lama.

###

Hari sudah malam. Waktu telah sampai pada Isya. Para muslim, keluar untuk menunaikan shalat Isya dan Tarawih. Afif yang kurang kerjaan, selepas shalat Isya hanya di halaman rumah. Bermain basket. Tetangga yang lewat dengan rumahnya menatap Afif dengan enggan. Mungkin dalam hati mereka “Ni anak kok enggak tarawih sih? Masa kerjaannya di rumah terus? Ya Allah”.

Afif tidak peduli dengan semua itu. Dia tidak memikirkan anggapan orang lain “masa bodoh. Gua mau main basket. Haha”. Cukup banyak orang yang berlalu lalang. Mereka rata-rata bergerombol. Ada juga yang berjalan menyendiri. Beberapa.

Dari beberapa oranga yang menyendiri itu, Lidya adalah salah satunya. Afif melihat Lidya dari halaman rumahnya namun di membuang muka. Merasa malu. “Aduh kenapa ya? Kok aku mau dilihat Lidya” batinnya berkonflik. Antara malu dan suka. Pengen melirik, eh malu.

“Bang Afif... Enggak tarawih nih?” suara merdu itu menyapa Afif. Lidya melewati rumah Afif, tepat di depan pagarnya. Afif yang sedang bermain basket terlihat jelas di retina Lidya yang polos. Sebagai orang baru di kompleks itu, Lidya yang belum tahu apa-apa tentun akan bertanya-tanya dengan tingkah Afif.

“Eh? Hehe.. Enggak nih. Lagi M... Males. He” Afif nyengir. Dan dia bingung harus menjawab apa.

“Ha? Kok tarawih malas-malasan? Gimana sih?” Lidya bertanya usil. Ia tertawa kecil.

Ih... wajah usil kamu cantik banget... Huahaaaa... Aku jadi makin suka...” Mungkin wajah Afif memerah waktu itu, namun malam dengan rapi menutupnya dibalik keremangan. Sapaan ringan Lidya malam itu membuatnya kaget plus malu. “Ya, ibadah kan enggak bisa dipaksa Lidya. Itu sunnah kan?” Afif mencoba menguasai diri.

Lidya melongo. “Ya Allah abang. Sunnah iya, tapi muakkad loh. Dan lagipula, ini bulan puasa. Ibadah apapun pahalanya dilipat-gandakan. Enggak mau apa dapat pahala?” Lidya sedikit mengejar.

“Malam lain masih ada kok. Santai aja. Besok bisa lah” Afif masih ngeyel. “Ah yang penting kaga dosa. Ahaha...” lanjutnya.

“Iya deh. Aku duluan yah. Dah” Lidya berlalu. Sedang Afif mencari tempat duduk. Tubuhnya panas dingin, detak jantungnya masih kencang. Percakapan dengan Lidya malam, baginya, berada di level yang tidak biasa. “Ya Allah... Aku kok canggung gitu ya sama dia? Padahal kalau mau mengajak debat tak layani sampai pagi”. Afif berusaha tenang, menguasai diri.

“Apa jangan-jangan aku jatuh cinta ya? Eh masa sih?” Afif mertanyakan diri sendiri. “Jujur aku suka sama senyumnya, sikapnya, wajahnya, dan...” Lidah itu menjadi kelu. “Ya Allah...” Afif memasuki rumah.

Ia memasuki kamarnya. Berniat tidur. Sebelum berdoa tidur, dia berniat puasa. Dan matanya terpejam, untuk beberapa  detik. “Eh aku berniat puasa????!!!! Serius????” Afif tersentak, bangun dari tidurnya. “Ya Allah.. Kok bisa?”. Ia merebahkan diri. Membenarkan posisi bantal. “Eh, aku menyebut nama-Nya? Tanpa sadar?”.

Malam itu Afif dilanda kebingungan. Sebab tanpa sadar, dia mengucap lafadz ‘Allah’. Tanpa sadar dia telah berniat berpuasa.  Apapun itu, dia meyakini bahwa apa yang sudah terjadi merupakan pertanda baik. Satu-satunya alasan yang bisa dia cari untuk kejadian ini adalah Lidya. Afif tersenyum. Dan senyum itu terus terukir hingga waktu sahur.

###

Pagi itu Afif bersahur, shalat shubuh dan berpuasa. Semua ibadah hari itu lancar. Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya. Bahkan ia juga mengaji Al-Qur’an. Cuma, seperti malam sebelumnya, masih enggan untuk bertarawih bersama. Mungkin karena mushalla berisi banyak manusia, yang mengharuskannya bersosialisasi.

Malam itu, Afif bermain basket lagi. Dan seperti sebelumnya, Lidya mengajaknya bertarawih. Hasilnya? Sama saja, Afif tetap enggak meninggalkan ‘gua’nya. Meski begitu, Lidya tidak tampak marah.

“Besok malam, apakah Lidya tetap akan mengajakku bertarawih? Kalau iya...” Afif tersenyum dengan keputusan yang dia buat dalam hatinya.

###

Malam selanjutnya. Afif tetap bermain basket. Kali ini, jika Lidya mengajaknya shalat tarawih lagi, Afif akan mengiyakan.

Dan muslimah cantik itu kembali menyapa. “Abang... Tarawih..” ajaknya. Seperti biasa Lidya sendiri. Padahal dia bisa pergi bersama Ayah-bundanya, atau adik-adiknya. Namun, Lidya sepertinya berangkat lebih awal.

“Iya. Aku akan tarawih” Afif menjawab mantap.

Lidya terkejut dengan jawaban itu. Tidak cuma karena peng-iya-an Afif, tapi juga karena pakaian Afif, yang tekesan belum siap. “Serius bang? Kok bajunya gitu?” Lidya setengah tidak percaya.

“Maaf tidak malam ini. Besok” Afif berlalu. Memasuki rumah, dan meninggalkan Lidya dalam kebingungan.

“Loh?” namun Lidya tidak ambil pusing, ia bersegera ke mushalla.

###

“Eh bang Afif mana ya? Katanya mau tarawih kok enggak nongol?” Lidya menghadapi pemandangan tidak biasa. Rumah Afif berderang, tapi halaman depan itu kosong. Tak ada bola basket yang biasanya mematul dari telapak tangan pemuda itu.

“Mungkin sudah duluan kali ke mushalla” Lidya melangkah lagi, meninggalkan rumah Afif.
Lidya yang tidak tahu apa-apa tentang Afif menjadi penasaran. Baginya, Afif adalah orang baik. Ia tidak bertanya agamanya, tapi Lidya yakin Afif seorang muslim. Cuma, aneh saat Afif menolak diajak tarawih. Tidak hanya itu, keadaan rumah Afif juga membuat Lidya heran. “Apa bang Afif tinggal sendiri ya? Rumah itu besar tapi kaya sepi gitu” sepanjang jalan ke mushalla Lidya diliputi rasa penasaran. Dia tidak punya informasi dan mencari informasi apapun tentang Afif. Padahal ayahnya adalah pak RT, yang bisa dibilang tahu tentang berbagai hal utamanya berkaitan dengan penduduk kompleks.

Tapi Lidya tidak mengambil pusing hal itu. Dia hanya berhusnu dzan. “Enggak berguna berpikir yang aneh-aneh.

Tanpa terasa, Lidya sudah memasuki are mushalla. Mushalla itu luas. Asri. Entah kenapa Lidya merasakan kenyamanan dari tempat itu. Lidya mencari shaf dimana dia biasa shalat. Dia tetap menempati tempat itu. Ber-istiqomah. Ia menunaikan dua rakaat shalat tahiyatal masjid. Selanjutnya, berdzikir menunggu iqamah.

Crrsss.. Ada suara gemerincik air. Asalnya adalah tempat wudhu putra. Agak terpisah dari bagian putri untuk shalat. Cuma, tetap bisa kelihatan. Lidya yang mendengar akan bunyi air secara tak sengaja menujukan pandangan ke tempat wudhu. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat seseorang yang sedang berwudhu itu adalah dia yang malam itu tak Lidya temui; Afif.

Lidya tersenyum. “Eh tapi kenapa?” dia bingung kenapa harus tersenyum melihat seseorang berwudhu. Aneh memang. “Ah mungkin senang karena bisa melihat dia tarawih lagi” batinnya. Lalu, iqamah pun dikumandangkan.

###

Selepas tarawih, Lidya pulang kembali. Kali ini dia bersama Thufail, adik laki-lakinya. Lidya kembali terkejut ketika Thufail memberinya selembar kertas terlipat. Saat Lidya bertanya dari siapa, Thufail menjawab “Dari mas Afif mbak. Katanya sih makasih. Enggak tahu apa”.
Lidya yang penasaran membuka lembaran itu, ada degub kencang di dadanya. Dan saat lipatan terbuka, Lidya tercengang. Isinya begini:

Untuk Alifah Maulidya

Saya sudah kembali. Terima kasih sudah membuat saya keluar dari gulita itu. Terima kasih sudah membangunkan saya dari hibernasi yang menyesakkan. Terima kasih sudah mengingatkan saya akan hal penting yang terlupa.
Terima kasih, cahaya.

Salam,
Muhammad Afif Humaini

Lidya bingung dan terkejut atas surat itu. Dia bingung atas maksud yang terkandung di surat itu dan terkejut karena entah mengapa Afif memberinya surat yang tak ia mengerti.

“Dek, paham isi surat ini enggak?” Lidya menyodorkan surat itu kepada Thufail. Dia membacanya, lalu tersenyum nakal.

“Cie dapat surat dari mas Afif cie.... Isinya juga puitis bangets... Cie... Haha” Thufail menertawakan kakaknya.

“Ih seriusan ini. Malah ketawa” Lidya dibuatnya kesal.

“Pis mbak. P E A C E... He..” Tetap, Thufail dengan wajah isengnya. Seakan tidak bersalah. 

“Mungkin kak Afif, ingin berterima kasih karena sudah membuatnya sadar kak”.

“Sadar? Dari apa?” Lidya mengejar keterangan dari adiknya.

“Oh iya ya kakak enggak tahu. Gini, mas Afif itu sudah dua tahunan enggak aktif beribadah. Kayanya sih, karena bibinya meninggal. Tapi menurutku, mas Afif punya cerita pahit yang lebih dari itu. Aku enggak pernah lihat di shalat jumat loh mbak. Aku juga enggak yakin dia sehari-hari shalat. Udah gitu, dia jadi mengurung diri terus. Jarang kan ngeliat dia keluar?” Thufail bercerita semua yang dia tahu.

Hah? Serius bang Afif punya cerita begitu? Waduh enggak nyangka” Lidya menyimpan ke-terkejutan-nya dalam hati. Ia menyembunyikan hal itu dari adiknya.

“Nah surat itu, menurutku, adalah bukti bahwa dia sudah kembali lagi menjadi muslim yang taat kak. Buktinya, malam ini shalat tarawih. Dan mas Afif berterima kasih atas hal itu sama kaka. Gitu.” Lidya mangut-mangut dengan jawaban Thufail. Meski masih SMP, Thufail adalah anak cerdas. Analisnya barusan cukup tajam untuk anak seusianya dan untuk hal yang seharusnya belum dia sentuh.

“Eh yang ngasih tahu nama lengkap kakak, kamu ya? Harusnya dia cuma tahu nama panggilan kakak aja” Kali ini Lidya menaruh curiga pada adiknya.

“Ha? Enggak lah kak buat apa?”

“Serius??”

“Ya Allah.. Kakak enggak percaya aku? Ya enggak papa sih. Kalau percaya sama aku, syirik namanya. Haha” Thufail masih saja bercanda.

“Thufail...” Lidya mulai gemas, ingin dia mencubit pipi adiknya.

“Hehe.. Ah kakak enggak bisa diajak becanda nih. Ntar cepat tua loh” Thufail aslinya memang suka bercanda. “Kakak enggak tahu mungkin, tapi mas Afif itu hacker. Keren kan? Aku enggak tahu memang dia dapat nama kakak darimana. Tapi baginya itu hal mudah. Bisa aja kan, lihat di database kelurahan. Daftar nama ayah, contohnya, juga tertera disana. Nama kakak juga ada meski tidak tinggal disini” lagi, Thufail memaparkan analisisnya.

Lidya terdiam. Jawaban adiknya sangat masuk akal. Lagipula, dia belum banyak tahu tentang Afif. Hal mendasar yang dia tahu adalah Afif sekarang sudah berubah. Dan atas perubahan itu Lidya juga turut gembira.

###

Perubahan Afif tentu membuat masyarakat se-kompleks kaget. Dimulai dari malam dia shalat tarawih pertama, ia terus saja beribadah. Dia rajin ke masjid. Tidak hanya tarawih tetapi juga shalat lima waktu, dia lakukan secara berjamaah di mushalla. Shalat jumat pun demikian. Afif juga mengikuti tadarus bersama saat tarawih usai.

Tidak cuma itu, secara sosial Afif semakin baik. Pagi dia mengitari kompleks untuk jalan-jalan. Sore membeli menu buka di samping rumahnya. Ada tetangganya menjual segala jenis makanan dan minuman manis. Takjil beraneka warna.

Afif juga semakin akrab dengan Lidya dan keluarga. Meski sering salah tingkah saat bertemu Lidya, namun komunikasi tetap berjalan normal.

Warga se-kompleks turut senang dengan Afif yang sudah kembali. Sebab, Afif aslinya adalah pribadi yang hangat dan disenangi semua kalangan. Dia baik. Suka membantu orang. Terbukti setelah ia insaf, Afif membantu mengajar anak TPA mengaji. Dia juga membantu pak Bambang, tetangganya yang kala itu sedang membangun rumah. Namun, Afif tetap bisa menyimbangkan perubahan itu dengan pekerjaannya.

Bulan Ramadhan itu, terasa manis bagi Afif. Ia merasa terlahir kembali.

###

“Allahu akbar... Allahu Akbar...” takbir menggema menyambut hari fitri yang tiba. Pagi itu, selepas shalat Id Afif bersiap di rumahnya. Ia akan bersilaturahim ke rumah pak Lathif.

“Alhamdulillah... Berkat kamu Lidya, saya bisa kembali lagi mengecap nikmatnya iman. Saya merasa nyaman. Diri saya yang lama, pemuda tanpa bekas wudhu, sudah saya tinggalkan. Inilah Afif yang baru, yang semangat menggapai ridha-Nya”.

Dengan pakaian terbaiknya yang baru dibeli empat hari sebelum Idul Fitri, Afif berjalan menuju rumah pak Lathif. Dia ringan ia menapaki jalanan kompleks. Sepanjangan perjalanan, ada satu nama yang terus beresonansi dihatinya; Lidya. Sepanjang perjalanan ada maksud baik yang ingin ia utarakan; khitbah.

Debaran itu terasa

Sebutir rasa yang terus membesar karena pesona seorang muslimah

Adalah fitrah untuk menjalani dunia fana berdua

Melengkapi separuh agama adalah jalannya

Akan tiba masa, saat kamu mendambakan dia;

Yang kan melenggapi kealpaanmu, yang kan mengingatkan khilafmu, yang kan menemani jihadmu

Berdua dengannya akan lebih baik dalam meneguhkan diri di jalan taqwa, bersama lebih bisa untuk meraih ridha-Nya

Dia akan menjadi madrasah pertama dan perpustakaan utama bagi putra-putrimu

Carilah...

Sebagaimana telah Muhammad SAW anjurkan dalam haditsnya;

Yang baik agamanya, yang rupawan parasnya, yang dimudahkan hartanya, yang dibaguskan nasabnya

Ukhti, engkau kah separuh agamaku?

Dinda, engkau kah bidadari itu?

Sayang, itukah dirimu yang tak bosan kala kupandang, dan membuat rindu kala jarak membentang?

Seberwarna taman bunga, begitulah suasana hati Afif. Rumah biru itu sudah dihadapan mata. Di halaman depan, tersembunyi dibalik rimbun belantara mawar, seorang muslimah cantik berpakaian orange tengah mengguyurkan air pada mawar-mawar merah.

Pemuda itu tampak canggung kala melihatnya. Tak lama, wanita itu menyadari akan seorang tamu yang hendak berkunjung. Ia pun merasakan kecanggungan yang sama. Ada kesan kaku diantara keduanya meski sudah sering bersua. Ada ekuivalensi rasa yang tidak bisa ditutupi. Keduanya saling melempar pandangan lalu senyuman. Dan beku dalam kebisuan yang manis.

Detik berikutnya, ada langkah kaki yang mantab memasuki pekarangan sang bidadari. Akhirnya sang akhi mampu berkata “Assalamuaikum...”.


Di rumah itu, berawal sebuah masa depan indah. Masa depan dibawah atap sakinah, mawaddah wa rahmah. Bahtera rumah tangga itu dilalui seorang pemuda yang telah menemukan jalannya kembali bersama sang istri yang telah menuntunnya memperbaiki diri. 

Enlightenment | Source: Doc. faradigm
Tersedia juga di wattpad. Berikut link-nya:
https://www.wattpad.com/144107435-dan-kutemukan-cahaya

Minggu, 28 Juni 2015

LOMBA CIPTA LAGU MARS KMNU

LOMBA CIPTA LAGU MARS KMNU 

“Semangat Pemuda Gelorakan Perjuangan Nahdlatul ‘Ulama” 

 Ketentuan Umum: 

1. Peserta adalah Mahasiswa atau alumni Mahasiswa yang berlatar belakang Nahdlatul 'Ulama baik yang aktif sebagai civitas (kader, anggota, dan pengurus) Organisasi ke-NU-an maupun tidak. 
2. Lomba ini dapat diikuti secara perorangan maupun kelompok (maksimal 3 orang). 
3. Karya ciptaan bergenre musik Mars. 
4. Tema lagu bersifat menggugah, mendorong dan memotivasi semangat dan optimisme pemuda KMNU dalam berjuang dan berkarya. 
5. Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul lagu. 
6. Peserta lomba adalah pencipta asli dari karya lagu yang diikutkan dalam lomba, dibuktikan dengan surat pernyataan yang ditandatangani di atas meterai. 
7. Lirik lagu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. 
8. Pada salah satu bagian lirik lagu harus mencantumkan kata “KMNU” atau “Keluarga Mahasiswa Nahdlatul ‘Ulama”. 
9. Karya harus original (asli/bukan plagiat), belum pernah dipublikasikan dan tidak sedang terikat kontrak dengan pihak manapun, tidak pernah diikutsertakan dalam Festival/Lomba Cipta/Kompetisi Lagu serupa, serta belum pernah dipublikasikan di media apapun dengan cara dan bentuk apapun yang dibuktikan dalam surat pernyataan yang sama seperti ketentuan pada poin 6. 
10. Karya harus selaras dengan Visi, Misi, dan cita-cita Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama. 
11. Karya direkam dan dinyanyikan dengan diiringi sedikitnya 1 (satu) instrumen musik. 
12. Panitia hanya akan mengambil 1 (satu) peserta dengan karya terbaik. 
13. Karya terbaik selanjutnya akan menjadi hak milik panitia dengan tetap mencantumkan hak cipta asli. Karya terbaik yang telah melalui proses revisi oleh dewan juri akan diumumkan sebagai pemenang. 
14. Pemenang akan memeperoleh hadiah berupa trophy, piagam penghargaan dan uang tunai. 
15. Nama pemenang akan diumumkan melalui pimnas.kmnu.or.id dan www.facebook.com/pekanilmiahkmnu serta akan dihubungi melalui telepon pada tanggal : 25 Agustus 2015. 
16. Pemenang mendapatkan undangan untuk menghadiri acara Seminar Pekan Ilmiah Nasional pada bulan Agustus 2015. Pemenang harus memenuhi undangan tersebut. Seluruh biaya akomodasi selama berada di lokasi, menjadi tanggung jawab panitia.
17. Apabila pemenang berhalangan hadir, maka harus mengirimkan satu perwakilannya dan menyerahkan Surat Kuasa yang bermeterai. 
18. Informasi mengenai teknis bagi pemenang akan disampaikan lebih lanjut oleh Panitia. 


Ketentuan Pendaftaran : 

Pendaftaran Lomba dibuka sejak tanggal 22 Juni 2015 s.d. 18 Juli 
2015. Setiap peserta wajib : 

1. Mengisi formulir pendaftaran dan data diri yang dilengkapi dengan foto diri ukuran postcard. 
2. Apabila peserta berupa kelompok, formulir dan data diri diperbanyak sejumlah anggota kelompok dan diisi oleh masing-masing anggota. 
3. Mengisi dan menandatangani Surat Pernyataan bersedia menerima semua ketentuan Panitia. 
4. Mengisi dan menandatangani Surat Pernyataan keaslian ide dan Surat Pernyataan bersedia menerima semua ketentuan yang telah ditetapkan Panitia di atas meterai Rp 6000,-. 
5. Merekam karyanya ke dalam keping CD dengan format mp3 dan jika mengirimkan lebih dari satu judul masing-masing direkam dan dikirim dalam keping CD terpisah dan diberi tanda label “MARS KMNU_Nama Pencipta”. 
6. Menyertakan cetakan lirik lagu yang diketik dengan rapi disertai notasi Lagu (not balok/not angka). 
7. Menyerahkan fotokopi tanda identitas (KTP/SIM/PASPOR/Kartu Pelajar/KTA IPM) atau keterangan lain yang sah. 
8. Pengumpulan hasil karya dapat dilakukan mulai tanggal 22 Juni 2015 s.d 25 Juli 2015 
9. Karya beserta seluruh persyaratan dimasukkan dalam 1 amplop coklat besar dan dikirim secara langsung atau via pos dengan menuliskan alamat tujuan: 


AGUSTINA FAUZIYAH (PANITIA LOMBA CIPTA LAGU MARS KMNU) 

KELUARGA MAHASISWA NAHDHATUL ULAMA 

Jl. Garuda No. 12 RT 02 RW 02 Pesarean, Pagerbarang, Tegal 52462 


 Ketentuan Penilaian : 

1. Setiap karya yang terkumpul akan dinilai berdasarkan kriteria: 
a) Lirik/syair lagu (Kesesuaian dengan visi misi KMNU) 
b) Musikalitas 
c) Estetika bahasa 

2. Penilaian dilakukan oleh 3 (tiga) dewan juri yang terdiri dari: 
Profesional/pakar di bidang musik, Lembaga Seni Budaya (Lesbumi) PBNU dan 
Pengurus Pusat KMNU Nasional.  

Teknis Penjurian 

1. Semua karya yang terkumpul akan dikirimkan kepada masing-masing Juri untuk dilakukan penilaian dengan criteria yang telah ditentukan Panitia. 
2. Penilaian dilakukan pada jangka waktu tanggal 2 - 15 Agustus 2015. 
3. Hasil penilaian dari masing-masing juri akan dikompilasi oleh Panitia dan ditentukan 3 (tiga) karya terbaik yang terpilih. 
4. Selanjutnya pada minggu ke-3 bulan Agustus, 3 karya tersebut akan disowankan kepada Ulama NU yang ahli di bidang syair untuk kemudian direvisi dan dipilih 1 (satu) Karya terbaik yang akan ditetapkan sebagai pemenang. 
5. Paling lambat tanggal 23 Agustus, Panitia sudah mendapatkan 1 nama pemenang. 
6. Tanggal 25 Agustus Panitia menghubungi pemenang untuk menjelaskan tentang 
ketentuan teknis bagi Pemenang.  

Hadiah : 

Pemenang akan menerima hadiah dalam bentuk sertifikat, trophy dan uang tunai 
senilai Rp 1.000.000,00 (Satu Juta Rupiah). 

Hadiah akan diserahkan langsung pada acara Seminar Pekan Ilmiah Nasional KMNU 
pada bulan Agustus 2015. 

Poster
Source: http://pimnas.kmnu.or.id/
Seluruh informasi post ini di nukil dari http://pimnas.kmnu.or.id/. Saat anda klik link tadi, akan tampil web dan berisi tentang panduan lomba cipta Mars dan poster.