Kamis, 15 Januari 2015

IAA Yogyakarta dan Shalawat-Salam untuk Rasul-Nya

14 Januari 2015 / 24 Rabiul Awwal 1436

Kembali, Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Yogyakarta mengadakan kegiatan. Kali ini adalah perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bertempat di basecamp IAA Yogyakarta, Papringan, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta.

Acara ini dihadiri oleh teman-teman alumni Annuqayah lintas angkatan. Mulai dari angkatan lama sampai yang masih junior, angkatan 2014. Selain itu, hadir pula delegasi dari organisasi alumni pesantren Madura yang lain. Tak kurang dari 70 orang hadir dalam acara ini. Dengan jumlah hadirin yang besar, maka tak pelak bagian lantai 1 basecamp IAA pun penuh, baik bagian luar dan dalam. Bahkan space untuk parker motor, beberapa, dialihkan ke tempat lain. Untuk tamu putri, ditempatkan di ruang yang berbeda.





Sekitar jam 19.45, saudara M. Khalilullah selaku MC membuka acara dan membacakan sususan acara yang akan berlangsung.

Acara pertama adalah pembukaan. Dalam hal ini dikomando oleh Cak Thahir dengan memaca surat Al-Fatihah pada syaikh-syaikh dan masyaikh Annuqayah.

Sambutan Ketua IAA
Selanjutnya adalah sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh ketua umum IAA Yogyakarta periode 2014-2016, saudara Zian Faradis. Dia mengatakan bahwa ini adalah acara perdana dari IAA Yogyakarta. Zian juga menyampaikan terima kasih bagi para undangan dan hadirin yang telah menyempatkan diri mengikuti acara perayaan maulid ini. Tak lupa, Zian meminta permohonan maaf atas segala kekurangan acara ini, baik tempat, format acara dan suguhan. “Yang memang beginilah ‘keadaannya’” ujarnya.

Sambutan kedua disampaikan oleh saudara Naufil Istikhari, ketua umum IAA periode 2012-2014. Yang katanya membacakan sambutan dari Cak Ruslani. Kebetulan beliau hadir sedikit lebih telat. Naufil juga mengucapkan terima kasih pada undangan dan hadirin.

“Acara yang ketiga, pembacaan shalawat Nabi” kata Khalil. Kali ini ada penampilan spesial dari hadrah Nurul Faradis. Merupakan grup hadrah IAA Yogyakarta yang baru dibentuk. Beranggotakan Faza Bina Al-‘Alim, M. Mahfudz Bakis, Moh. Aldy Anfasa Abduh, Diyanto, Ach. Qomaruddin dan Zainur Ridha. Dua orang terakhir merupakan vokalis Nurul Faradis. Meski baru pertama tampil dan belum intens latihan, namun grup hadrah Nurul Faradis tampil bagus dan percaya diri. Allahumma shalli ‘ala Muhammad….

Penampilan Hadrah Nurul Faradis

Mahallul qiyam...
Setelah pembacaan shalawat Nabi Muhammad SAW usai, maka dilanjutkan dengan acara keempat, tausiyah dari senior. Dalam hal ini disampaikan oleh Cak Maulidi. Dengan gaya bahasa yang gado-gado (memakai bahasa Indonesia, Jawa dan Madura) beliau menyampaikan banyak hal tentang Nabi Muhammad SAW pada hadirin yang juga gado-gado. Baru sampai di muqaddimah beliau berbicara, hujan pun turun membasahi bumi Yogyakarta. Tak pelak para hadirin yang ada di bagian luar kalang kabut memncari atap untuk berlindung dari tetes hujan yang tiba-tiba dating secara keroyokan. Banyak yang ‘mengungsi ke bagian dalam dan di bagian parkir motor dalam basecamp IAA Yogyakarta.

“Sungguh beruntung orang yang beriman padaku dan bertemu denganku. Dan sungguh beruntung orang yang beriman kepadaku dan tidak bertemu denganku” ucap Cak Maulidi kembali. Ini merupakan hadits bahwa kita sebagai ummat Muhammad adalah orang yang beruntung. Beliau mengakui kita yang bahkan tak bias bertemu dengannya di dunia ini sebagai ummatnya. Intinya adalah kita harus beriman padanya dan pada apa yang telah disampaikannya serta meneladani setiap perilaku shalihnya.

Cak Maulidi juga menyampaikan rasa bangga akan terselenggaranya acara ini. Beliau berharap acara serupa dapat berlangsung lagi di tahun berikutnya dan bisa bekerja sama dengan alumni senior guna meluaskan sekop acara. Amin.

“Kita dan Rasulullah itu bedanya ‘sedikit’. Rasulullah makan sedikit, kita sedikit-sedikit makan. Kita shalat sedikit, Rasulullah sedikit-sedikit shalat” kelakar cak Maulidi yang mengundang tawa hadirin.  Beliau juga menyampaikn bahwa ada dua golongan orang masuk surga; masuk karena ridha-Nya dan masuk karena syafaat rasul-Nya.

Terakhir, beliau menyampaikan permohonan maaf bila ada salah kata dan keliru tingkah, lalu menutup tausiyahnya. Pada acara penutup, cak Maulidi pun memimpin pembacaan doa.


Khalil selaku MC menutup acara ini dan diakhiri dengan makan bersama.

Rabu, 14 Januari 2015

Langit Biru di Studio Biru

11 Januari 2015 / 20 Rabiul Awwal 1436

OMIP Liberty mengadakan sebuah kegiatan seru hari minggu? Mau tahu apa? Check it out!
Sekitar pukul 08.00 teman-teman yang akan mengikuti acara ini berkumpul di depan poliklinik UIN Sunan Kalijaga. Tentunya sebagian besar telah datang lebih dahulu, menanti yang belum datang. Dan dalam waktu yang cukup lama. Teman-teman OMIP Liberty yang ikut lebih dari dua puluh orang, terdiri dari berbagai angkatan, 12, 13 dan 14.

Teman-teman membawa berbagai hal; kerupuk, makanan ringan dan 4 dus untuk buku. Buat apa? Ah lihat saja nanti.

Setelah semua teman berkumpul, sekitar jam 08.35, kamu berangkat. Dengan menggunakan motor, kami berkendara menyusuri jalan Solo. Kea rah timur, sampai di daerah Prambanan. Tempat yang kami kunjungi termasuk daerah dalam, harus menjauh dari jalan raya. Jadi, setelah sampai di jarak tertentu jalan utama, kami menuju arah selatan; kawasan desa.

Kiri kanan kulihat banyak sawah padi membentang. Suasana begitu asri. Bau angin sungguh terasa segar. Semua tampak perawan, tak terjamah proyek pembangunan. Semua masih alami, belum terkotori sampah kimiawi. Kami nikmati ini beberapa lama. Untuk sekian menit. Sampai…

Disamping kiri-kananku
Ya, memang ini sudah diberitahu sebelumnya bahwa kami akan melewati tempat unik; rumah Domes. Sebuah rumah tahan gempa yang berbentuk parabola, setengah lingkaran. Dibangun bagi mereka korban  gempa tahun 2010. Tentunya memiliki resistensi tinggi pada gempa. Semacam inovasi baru dan terapi trauma.

Rumah 'Teletubies'
Sisanya, adalah jalan menanjak yang harus kami lewati. Entah berapa derajat kemiringan, yang jelas lebih curam dari jalan di daerang Gunungkidul. Dan dengan belok-belokan yang lebih tajam. Karena lokasi cukup tinggi dan medan yang berat maka waktu yang diperlukan mencapai tempat tujuan cukup lama. Tapi akhirnya kami sampai juga.

Maka selamat datang di Sanggar Studio Biru.

Di lokasi
Sederhananya Sanggar Studio Biru merupakan tempat menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar. Disana terdapat perpustakaan dan media belajar bagi adik-adik yang masih kecil. Memang bertempat di pedalaman, dikelilingi oleh pohon jati dan sejenisnya. Namun disitulah keunikan dan urgensitasnya. Sang pendiri telah merealisasikan sebuah niat baik untuk memberikan media dan tempat menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar, anak-anak yang berada dikwasan pedalaman.

Dan untuk apa kita kesini?

Bakti sosial. Ya itulah wujud pengabdian OMIP Liberty pada masyarakat utamanya di daerah Yogyakarta dan sekitarnya.

Apa yang kami bawa?

Hal utama adalah buku. Yaa senada dengan nafas jurusan kami dan hadiah paling tepat untuk mengembangkan kecerdasan, wawasan dan pengetahuan anak-anak, cara memajukan peradaban. Setelah sedikit istirahat, maka acara pun dimulai.

Mas Rendra, pendiri Sanggar Studio Biru membuka acara. Ia menyampaikan terima kasih pada teman-teman OMIP Liberty yang sudah datang jauh-jauh ke tempatnya dan memberikan kejutan. Lalu mas Rendra melakukan tradisi perkenalan yang biasa mereka lakukan saat menerima tamu atau ada kenalan baru. Caranya adalah tepuk tangan dan menyebutkan nama masing-masing. Sebuah cara unik yang dilakukan untuk dapat saling kenal dengan mudah.

Setelah perkenalan selesai maka gilran teman-teman OMIP Liberty yang bicara. Mereka menyampaikan terima kasih atas sambutan teman-teman Sanggar Studio Biru dan memberitahu maksud kedatangan serta acara yang akan dilansungkan. Lalu, teman-teman OMIP Liberty melakukan simbolilasi penyerahan sumbangan buku. Eit jangan lupa, foto bareng dulu.

Ini buat adek...

Our Moments...
So, what’s next? Of course Have Fun!

Di dekat Sanggar Studio Biru terdapat lapangan yang bisa dipakai untuk outbond. Berada didepan rumah mas Arif, ketua organisasi pemuda disana. Tapi sebelumnya, mengingat hari menginjak siang, maka teman-teman OMIP Liberty dan teman-teman sanggar berinisiasi memasang terpal untuk menjauh peserta outbond dari terik mentari mengingat sebagian besar teman-teman sanggar adalah anak-anak.

And… Game begins..

Ada beberapa game yang dimainkan. Pertama adalah estafet karet. Tiap peserta menggigit sedotan sebagai ganti tangan dalam memegan karet. Karet diambil dengan  mulut dan terus secara estafet dengan mulut antar tim. Tim dibagi menjadi tiga deret yang berbaris memanjang kebelakang. Awalnya grup yang terdiri dari anak-anak yang bermain, lalu teman-teman OMIP Liberty dan akhirnya campuran.

Permainan ini cukup safety bagi anak-anak karena menggunakan bahan yang relatif aman. Tapi sekaligus cukup susah mengingat tipe permainan ini bukanlah hal yang lumrah dilakukan. Dan disitulah letak keseruannya. Tiap tim harus berlomba paling cepat mengumpulakn karet di pemain paling belakang. Tima yang paling banyak karetnya adalah pemenangnya.

Estafet Karet
Permainan kedua adalah estafet sarung. Kali ini dibagi dalam dua tim yang saling berhadapan. Pemenangnya adalah tim yang berhasil melewatkan sarung pada tiap anggota timnya bolak-balik, dari awal dan kembali ke awal lagi. Sementara tangan setiap anggota tim harus saling berpegangan. Jadi tiap orang harus goyang-goyang tangan dan badan untuk memindahkan sarung.

Ayo goyangin sarungnya...
Nah setelah game dari teman-teman OMIP Liberty selesai, mas Rendra mengajak main game lain. Namanya sih mencari titik . Jadi lapangan ditandai dengan lakban hitam sebagai titik lalu tiap orang harus menyumbunyikan titik tersebut dan terus berpindah ke titik lain yang tidak ditutupi. Ada tiga titik yang tidak ditutupi da nada satu orang yang jaga. Kal ini seluruh teman-teman OMIP Liberty dan anak-anak sanggar berbaur dalam keseruan.

(Entah filosofinya apa)
Lelah? Istirahat dulu. Bagi adik-adik sanggar yang lelah dan lapar, teman-teman OMIP Liberty sudah menyediakan kepuruk dan air mineral. Cukuplah untuk mengatasi hal tersebut (lelah dan lapar). Dan juga ada hadiah bagi tim yang menang permainan tadi.

Hadiah...
Akhirnya siang pun tiba. Kami istirahat da nada yang melaksanakan shalat dhuhur berjamaah di Sanggar Studio Biru. Agenda selanjutnya adalah melihat pemandangan cantik dari pundak bukit. Ini juga sekaligus pendukung survey, katanya sekitar tempat ini akan dibangun tempat wisata. Teman-teman yang ingin ikut menaiki motor ke tempat yang lebih tinggi. Sementara sisanya meminta pulang terlebih dahulu dengan alasan kesehatan.

Langit biru

Yang menemani perjalanan pulang...

Sabtu, 10 Januari 2015

Kalian yang Mencicipkan Magelang Padaku

09 Januari 2015 seirama dengan 18 Rabiul Awwal 1436

Behind The Scene
Hari ini sayyidul ayyam. Kami bermaksud menyelesaikan tugas yang tertunda; artwork Etika Profesi. Bertempat di masjid Ukhuwah Islamiyah, aku (@a_akmalf), Bahar Mahmud Reynaldi (@inalreynaldi), Fiqie Iklil Haidar (@KenFiqie), Dyah Fitri Vikasari, Riffa Adcha Rachmawati (@AdchaRiffa), Khabib Rushdinah, Hana Rosila (@Hana_rosila) dan Nova Maziatul Ulya (@denovaa_) merampungkan proyek yang setidaknya dimulai dari jam 13.25. 


Behind The Scene 2
Artwork kami bertemakan ‘pustakawan inklusif’. Maksudnya pustakawan itu kudu bersifat terbuka. Meski pustakawan tahu banyak hal namun tak menutup kemungkinan ada hal yang belum diketahui. Selain itu, pustakawan dapat menerima berbagai saran dan kritikan dari pemustaka dan menanggapi dengan baik-ramah. Uhu si burung hantu mewakili hal tersebut. Kepalanya yang dapat berputar 180 derajat adalah bukti ia dapat melihat segala arah. Asyik…

Behind The Scene 3
Kami kerjakan artwork tersebut bersama-sama, cukup mudah dan tidak makan waktu banyak karena sudah tahap akhir, just give a finishing touch. Seru sih, soalnya selain kelompok kami pun ada yang membantu.  Hehe… Selain itu kami tidak bisa berlama-lama karena punya niat baik lain; menceriakan seorang sahabat (lagi). Dan kali ini ada beberapa teman yang ikut serta.



The Team

Si Uhu

Karya kami

Sekitar jam 15.00 kami siap-siap berangkat. Yang berada di depan sebagai guide adalah Nova, disusul Agus Yulianto Prasetya (@Agusyulianto01) dan Abdul Mutaal Hakim (@mutaal_al), Riffa dan Khabib, Ari Triyahya (@arytriyahya) dan Ina Kencana Putri, Isnaeni Setyaningsih (@isnaenisetya) dan Ayu Amalia Rizki, Mohammad Imam Maswadi (@) dan Tri Yuliani (@triyulianiiii) sedang aku bareng Fiqie. Ada beberapa orang yang enggak bisa ikut kaya kak Vika, Hana dan Bahar. Yap, kami pun tancap gas menuju Magelang, rumah Khadziq Marzuqi (@khadiq_dzuki). Kami masing-masing boncengan, berkendara dengan motor.

Perjalan ke Magelang tak terlalu lam ternyata. Track yang kami lewati begitu lancar, tak memiliki begitu banyak belokan, tinggal lurus saja. Selain itu jalannya begitu nyaman tanpa lubang. Karena itu Fiqie berani memintaku menyetir. Aku sih pe-de aja. Kukendarai motor dengan santai tapi tak pelan. Ya lancar-lancar saja.

Cukup mudah untuk menandai rumah Zuqi. Ada sebuah jalan ke kiri pas sebelum Gapura Jawa Tengah. Setelah itu tinggal lurus saja dan…. jeng jeng sampai deh di rumah Zuqi. Rumahnya ada disamping kiri jalan, banyak pohon salak membentang. Nah, saat kami sampai Zuqi menyalami kami semua lalu dipersilakan duduk deh.

Ruang tamu rumah Zuqi luas, cukup menampung kesebelasan kami (eh?). Ya memang kami cukup banyak. He.. Oh ya kami datang menjenguk Zuqi karena ia mengalami kecelakaan, atau tepatnya jatuh dengan keras. Kalau dilihat sekilah dia bahkan tidak terlihat terluka (ya memang begitulah). Tapi secara psikis pasti shock. Ya bayangkan saja kamu nabrak orang terus dia luka parah sementara kamu enggak? Walau pada posisinya Zuqi kagak salah tapi tanggung jawab itu perlu to?

Wah ternyata kami malah merepotkan. Keluarga Zuqi menyuguhkan the manis untuk tiap anak, ada beberapa jajanan dan roti serta buah salak. Makasih yo dab suguhannya.

Percakapan terjadi disela teman-teman ngemil. Topik utamanya sih Zuqi. Tapi tak lama-lama kami bahas. Lagipula masih ada bahan yang lebih cocok dibicarakan; si Jum! Wkwkwk

Hari mulai sore dan kami belum shalat. Akkhirnya semua menuju kamar manddi untuk berwudhu dan Zuqi menyiapkan tempat untuk shalat. Pas yang lain lagi bergantian wudhu, aku jalan-jalan kebelakang rumah dan menemukan pohon rambutan serta salak. Gila! Pohon salaknya banyak banget. “Mal mau wudhu enggak?” seseorang memanggil. Yap it’s my turn to tak ritual ablution. Lalu semua pun shalat berjamaah.

Setelah shalat, kami pamit pada Zuqi dan keluarganya dan pergi ke rumah Nova. Dah Zuqi… Oh ya, makasih buat salaknya… Hehe




Kembali Nova memimpin jalan (iya lah kan mau kerumahnya). Sekali lagi, track yang kami hadapi cuma lurus saja. Dan tiba-tiba nova berbelok kiri begitu ada gapura, memberi tanda tentunya. Rumah tidak begitu jauh sih. Makanya kami cepat sampai.

Di rumah Nova…

Kami semua rehat dulu, yah menghilangkan penat. Ternyata rumah Nova semacam ada dilingkungan komplek. Didepan rumahnya ada kolam ikan, dan banyak tumbuhan dalam pot disekitarnya. Disitu kami mulai ngobrol lagi. Sepertinya pas ditempat Zuqi belum habis semua deh. Wkwk


Kolam


Pas sampai



Baru sampai


Canda kita

“Aku pulang duluan yah. Ada acara” Agus berpamitan. Yah teman bercanda berkurang deh…. Karena Taal makmumnya Agus, maka ia juga ikut pulang. Hati-hati ya kawan.

Tak lama Nova keluar dari rumahnya dengan membawa gorengan dan teh hangat. Loh? Wah sepertinya dia memang sudah memesan ini daritadi, direncakan rupanya. Tapi kami kan “menghormati” tuan rumah, ya dilahap saja. Hm….


Melepas lelah

Jhoss
























“Ini dihabisin yah..” Nova membawa sesuatu (lagi). Wow… Mie kuah porsi gede. Gila! Mana bakal habis Nov? Plus ada nasi dan kecap. Ya, berhubung kami juga he (lapar), dan menghormati tuan rumah, ya sikat saja. Haha. Hmm.. Enak (maklum anak kos). Semua makan dengan lahap. Semua juga bercengkrama melepas penat. Haha.. Guys, kalian memang menyenangkan. Wkwk. Oh iya! Agus sama Taal malah enggak dapat makan. Yah… Semoga dapat ganti yang lebih baik guys.


Opo e jum?

Ayo makan...
























“Allahu Akbar Allahu Akbar..” Adzan maghrib menggema. Kami harus menjawab panggilan-Nya, menjadi hamba-Nya yang shalih. Untungnya kami semua  sudah selesai makan jadi nyaman beribadah. Kan ‘kuluu wasyrabu wa ta’abbadu…’ (petikan ayat) hehe. Grup cowok (aku, Fiqie, Ari dan Imam/Jum) memutuskan untuk shalat di mushalla yang tempatnya tak jauh dari rumah Nova. Sementara grup cewwk (Riffa, Khabib, Ina, Ani, Isna dan Kiki) baiknya memang shalat di rumah Nova. “Ayo berangkat” ajakku pada teman-teman cowok.

Sepanjang jalan menuju mushalla kami masih saja bersenda gurau. Biasa kalau aja si Jum semuanya pasti tertawa. Jum enggak ad aloe enggak rame…

Sampai mushalla, kami megambil wudhu lalu shalat dengan jama’ah lain, fis shaffil ula. “Allahu Akbar” lalu semua larut dalam kekhusyu’an.

Setelah shalat kami kembali ke rumah Nova lagi. Nah, yang lucu kami itu bingung dengan arah kiblat mushlalla. Karena jika dibandingkan dengan pengamatan kami pada langit, arah kiblat mushalla seakan melenceng. Kami merasa shalat ke arah utara! Tapi setelah Nova memberi tahu arah sebenarnya hati kami pun damai.

Hari sudah malam. Kami memutuskan untuk pulang. Lalu kami berpamitan pada Nova dan keluarganya. Dah Nova…

Malam telah menyelimuti, dingin pun mengiringi. Sementara Yogyakarta masih jauh dari pelupuk mata. Namun kami senang melewatinya bersama

Nah sebelum pulang, kami mampir dulu di sebuah toko pinggir jalan untuk membeli hadiah yang terlupa. Sebuah jaket untuk sahabat kami; Zuqi. Setelah membelinya, Ari dan Inalah yang mengantarnya pada dab Zuqi. Itu hadiah dari temen-temen loh dab.

Sementara sisanya menyempatkan untuk berfoto didepan gapura Jawa Tengah, terutama aku. Entah kenapa dari dulu aku ingin pergi ke gapura ini. Padahal tadi tak sempat mengambil foto, tapi nasib seakan memberiku kesempatan untuk tetap bisa mengabadikan moment ini. Aku merasa terikat dengannya. Ah, Tuhan selalu tahu cara memberi kejutan.


Gapura menuju...
Setelah Ari dan Ina kembali maka kami pun melanjutkan perjalanan pulang.

Aku bersama Fiqie melaju lebih dulu. Entah kenapa dia jadi lebih kencang kalau malam. Nocturnal? Ah sudahlah. Pokok e kita selamat sampai masjid Ukhuwah Islamiyah dulu Fiq. Loh? Ya aku mau mengambil foto artwork lagi. Ada yang kurang. Dikit.

Tapi setelah sampai masjid Fiqie kami istirahat dulu. Capek. Lagipula setelah ini Fiqie mau pulang ke rumahnya.

“Eh shalat dulu yuk” Imam mengajak kami shalat isya. Lalu kami bertiga pun shalat dengan Fiqie (si James) sebagai imam. Alhandulillah si Fiqie fasih, a tidak dibaca nga. Wkwkwk

Pada akhirnya Fiqie mengantarku pulang ke kos. Makasih yo. Hati-hati di jalan.