Rabu, 20 Agustus 2014

Nurani Alfa Part 7

1.   Mungkin orang cantik banyak disukai tapi anda tidak harus menyukai orang cantik. Menyukai seseorang karena tampak luar adalah hal yang wajar namun menyukai seseorang karena hal yang tidak tampak (didalam) terkadang menjadi hal yang penting. Walaupun ‘arah hati’ dan ‘rasa selera’ manusia tidak pernah sama, ingatlah bahwa semua akan terwadahi oleh ‘keberanekaragaman hayati’ ciptaan-Nya.
2.      Walau ‘tidak ada yang tidak mungkin’ namun sang waktu bisa memberi hambatan serius.
3.      Emosi dan rasionalitas ada di jalur yang berbeda. Tidak bertabrakan tapi terkadang susah dipertemukan.
4.      Pengalaman turut membentuk mindset anda.
5.      Apakah keadaan selalu sesuai harapan? Bila iya maka beruntunglah kamu. Bila tidak maka sabar adalah sebaik-baiknya teman dikala itu.
6.      Seandainya bukan karena yang namanya ‘pertimbangan’ mungkin kita sudah bertingkah bebas.
7.      Sebenarnya, cukuplah hati yang menjadi penampung keluh kesah.
8.      Berpikirlah baik, berprasangka baik, jadilah orang baik-baik dan lakukan yang terbaik.
9.      Rasa ingin tahu dan pengetahuan dapat menghapus keraguan.
10.  ‘Status Facebook’ adalah pedang. Salah menggunakan tamatlah riwayatmu.
11.  Tindakan etis dan tindakan logis berjalan beriringan.
12.  Bohong demi kebaikan adalah kesalahan yang dimaklumi.
13.  Bedakan antara menutup aurat dan membungkus aurat.

14.  Terkadang rasa malu melebihi rasa lelah. Ada kalanya kita melakukan sesuatu yang begitu melelahkan demi menghindari rasa malu.

Senin, 21 Juli 2014

Memoar Seorang Santri

Oleh: Akmal Faradise

Bismillah

Santri adalah seorang yang sedang atau pernah menjalani kehidupan di pondok pesantren. Dalam setiap tindakan dan ucapannya –seharusnya- selalu berasaskan nilai-nilai Islam dan berdasarkan pada Al-Qur’an dan Hadits. Bisa dibilang, menjadi santri adalah suatu hal yang sangat beruntung. Karena tidak semua orang memilih menjadi santri (konteksnya mondok di pesantren). Selain itu pengetahuan, pengalaman dan kemampuan selama berada di pesantren tidak dapat ditemukan di tempat lain. Ada hal-hal yang begitu spesial yang secara lanjut terjabarkan sebagai berikut.

-Pendidikan Agama-
            Tujuan mondok di pesantren adalah untuk mencapai hal ini. Yaitu menjadi orang yang tafaqquh fi al-din dan mengamalkan ilmu yang didapat secara langsung dan konsisten. Di pesantren, banyak sekali disiplin ilmu yang diajarkan. Utamanya dalam bidang teologi, hukum dan etika/mistisisme. Bahan rujukan pembelajaran pesantren adalah rujukan asli; kitab turats mahakarya ulama’ salafus shalih. Dan dalam perkembangannya, kitab-kitab karya ulama khalaf pun masuk dalam daftar rujukan. Pendamping belajar para santri pun juga biasanya adalah orang yang kompeten di bidang agama.
            Hal yang lebih penting adalah aplikasi langsung akan ilmu yang telah dipelajari. Ini merupakan tradisi khas pesantren. Dimana santri melakukan atau mengamalkan ilmu yang telah dipelajari dalam kehidupan di pesantren agar nantinya hal tersebut lebih bermanfaat pada diri dan masyarakat. Kegiatan ini dikawal ketat  oleh peraturan pesantren. Selain itu, hadirnya sosok ‘sang kiai’ yang menjadi ‘ayah’ bagi bagi santrinya dan memberikan ketelaadanan. Seorang kiai memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni dan menjadi contoh bagi santrinya dalam sisi pengetahuan, ucapan, perbuatan, ketetapan, dan sifat.  Akhirnya, pembelajaran keagamaan di pesntren terlaksana dalam tiga prinsip pokok; teori, praktek dan evaluasi.

-Pelajaran Umum-
            Pada awalnya, pendidikan di pesantren terfokus pada materi keagamaan. Seiring dengan perkembangan zaman, karena dirasa penting maka materi umum juga ditambahkan. Namun, prioritas pembelajaran tetap terpusat pada pembelajaran keagamaan. Hal ini dijalankan dengan tidak melanggar asas al-mukhafadhatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah. Penambahan pelajaran umum dilakukan agar santri dan pesantre tidak ketinggalan akan kemajuan zaman dan santri bisa memiliki dua kompetensi sekaligus. Walaupun sebenarnya keilmuan itu tidak mengenal adanya dikotomi.
-Belajar bersosial-
            Pesantren tak ubahnya miniatur masyarakat. Santri berasal dari berbagai daerah; berbeda suku dan ras. Di pesantren santri juga akan belajar hidup bersama orang lain yang berbeda karakter untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling memahami. Lalu, komunikasi yang baik dan kepekaan social mutlak diperlukan.

-Organisasi-
            Poin merupakan tindak lanjut dari kegiatan bersosial di pesantren. Biasanya di pesantren terdapat organisasi santri. Dalam organisasi tersebut tentunya santri tidak Cuma belajar bersosial tetapi juga belajar bagaimana bekerja sama secara structural untuk menyelenggarakan suatu kegiatan atau acara. Dari itu santri belajar bagaimana berorganisasi dengan baik yang nantinya hal ini sangat berguna saat santri sudah kembali ke masyarakat.

-Manajemen diri dan mandiri-
            Pada dasarnya, santri yang mondok berarti telah lepas dari bantuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan diri. Artinya santri harus memenej waktunya agar bisa menyeimbangkan antara aktifitas pokok dan tambahan. Misalnya, santri harus bisa mengatur kapan waktu untuk belajar dan kapan waktu untuk berorganisasi. Selain itu, santri harus bisa mengelola keuangannnya. Memilah menggunakan uang, apakah untuk kebutuhan primer atau sekunder. Lalu juga bisa menghemat pemakaian uang jatah bulanan.

-Sastra-
            Akhir-akhir ini, bidang kesusastraan juga termasuk bidang yang digeluti santri. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya santri yang menuai prestasi di bidang tersebut, beredar buku yang notabene penulisna adalah santri dan geliat kegiatan di pesantren yang berkenaan dengan sastra. Banyak santri yang cukup serius dalam menggeluti bidang sastra dan untuk mendukung hal tersebut terkadang sastrawan-satrawan yang kompeten seringkali diminta oleh santri untuk menambah pengetahuan dan pengalaman mereka tentang sastra.
            Dengan sedikit uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kehidupan di pondok pesantren itu sangat komplek dan kondusif untuk membina santri menjadi orang yang berkompetensi dan siapa berkompetisi.


Alaikumun nafi’ah

Minggu, 22 Juni 2014

Living in The Peaceful Village

What do you think about your live? I mean do you ever think where do you live? Are you feel peaceful in your place? Nowadays, the place where we live is very important to think. As far I know, we can devided place for live into two categories. One, village. Wee can live in he village. And two, city. Especially modern city. So, it’s change our live pattern.
            In villlage, you can find many traditional activities. Like farming, fishing and other activities. You can see a great panorama, a wonderful scenery like mountain, beach, farmland, trees and other. So get a healthy life because the oxygen or fresh air stock is very vast. But I think, the transportation access is difficult and the electric access is so difficult too. Something great that you’ll find in the village is a kind people and peaceful  condition. You never a noise sound caused by transportation, right?
            It’s different from modern city life condition. In modern city you’ll get easy access to use transportation, electronic gadget and internet. This is an additional point when you live in modern city.
            If you were a shopaholic, you’ll get your passion in modern city. Usually, you’ll find a mall or supermarket and you can buy anything you want. But it considered with your financial condition.
            The minus point that you’ll get if you live in modern city is interaction pattern is bad, people live individually and the increase of gadget user is make condition badder.

            So, I recomended to live in village, a peaceful village because you’ll find kind people, the large stock of oxygen and beautiful scenery, you need’nt to have much money because your live actifity is normal not expensive. But you’ll be difficult to get transportation and electric access.