Sabtu, 29 Agustus 2015

Festival Dolanan Bocah 2015

28 Agustus 2015 senada dengan 14 Dzul Qa’dah 1436

Dari kemarin, sudah ada rencana dolan. Ke tempat teman, yang kuharap menyenangkan.

Festival Dolanan Bocah 2015 | Source: Facebook Timeline Picture
Maghrib kemarin, rencana aku mau rujakan bareng teman. Tapi ternyata adzan isya sudah memanggil. Maka penting untuk menyegerakan shalat. He.

Hal yang tak terduga adalah, temanku datang dan mengajakku keluar bareng. “Mau ke tempat Ari kan? Ayo... Aku shalat sek” kata Adib tiba-tiba. Bagaimanapun aku senang karena ada teman pergi. Sisi buruknya, aku yang harus menyetir motor. Waduh. Ya kutancap aja, sebisanya. Pada akhirnya, sampai juga di tempat Ari.

Aslinya kami bingung dimana tempat festivalnya. Kami muter-muter desa dulu. Ya mengikuti jalan sekenanya. Cuma, sampai sekarang ada hal yang membuat saya heran tentang berkendara. Jadi, meski tidak tahu jalan, sering kali pengendara tahu harus menuju kemana, belok kiri atau kanan. Enggak percaya? Aku dan Adib sampai juga kok di lokasi.

Ternyata tempatnya.... keren. Itu kata pertama yang muncul. Hew hew. Acara sudah mulai. Terdengar suara MC, dengan bahasa Jawa halus, mempersilakan ketua Karang Taruna Tunas Mekar untuk menyampaikan sambutan. Suara sambutan itu khas sekali, telinga ini tidak asing dengan frekuensinya. Aku tahu, bahwa Ari yang menyampaikan sambutan itu. Dia mengatakan pergeseran pemainan tradisional anak dan dampak pengunaan gadget. Selain itu dia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak terlibat yang ikut andil dalam menyukseskan acara ini. Setelahnya, ada pembacaan doa.

Sebagai acara pertama dengan konsep ini, menurutku sih sukses. Konsep acara keren. Tata telaknya begini: pas masuk ada sedikit orang jualan di samping pos ronda. Bagian kirinya terdapat kursi untuk penonton. Tidak jauh dari situ ada tempat duduk undangan. Lalu di tengah-tengah lokasi terpasang backdrop kegiatan sekaligus mungkin bisa digunakan sebagai photospot. Disana tempat semua sambutan berlangsung. Ada proyektor yang menampilkan video kegiatan ini, dipasang besar-besar tengah lapangan.

Acara dilanjutkan dengan kirab keliling kampung. Aku enggak tahu apa aja yang tampil. Pesertanya merupakan orang-orang kampung dari berbagai RT. Sebagai pengunjung luar, paling aman memang hanya mengamati haha. Dan kami bertemu dengan Ari disana. Dengan berpakaain khas Jogja plus blankon, Ari menyalami kami. Co-card panitia menggantung di dada. Dari apa yang kulihat, sepertinya begitulah dress code panitia. Kami berbincang sejenak. Dia menanyakan kemana anak kelas yang lain. Aku cuma bisa mengangkat bahu. Lalu Ari pamit untuk mengurusi acara lagi, sibuk pokoknya.

Selagi kirab berjalan, aku dan Adib datang mencari Fara, teman sekelas yang tampil tari di acara ini. Ya temu kangen dah. Haha. Kita sempat-sempatin becanda dan foto bareng. Fara dan dua temannya masih akan tampil nanti. Aku dan Adib memutuskan untuk berkeliling dan mencari tempat bicara.
Ini kami. Fariz, Fara dan Adib | Source: Xiaomi Cam

Selama menunggu kirab, kami bicara banyak hal. Dan tidak terlalu penting dibahas disini. Haha. Dan ketika kirab sudah tiba pun, kami masih berbincang-bincang. Lalu setelahnya, acara ini dibuka oleh bapak bupati Bantul. Keren. Keren Ari cs bisa mendatangkan beliau. Disambutannya beliau menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan acara ini. Dan acara resmi di buka.

Malam itu dingin, aku dan Adib juga pengen makan sesuatu. Akhirnya, wedang ronde menjadi pengisi perut yang kami pilih. Pas menunya dan dekat rombongnya. He. Sembari menyeruput wedang ronde, kami bincang masalah iDevice. Oh ya, teman-teman tahu wedang ronde? Saya sih baru tahu pas di Jogja. Makanan ini kaya berkuah gitu. Jadi ada wedang jahe, terus topping berupa kacang goreng, roti, kolang-kaling dan dua bola putih kenyal yang isinya gula Jawa. Mbuh opo kui. Pokokmen... sedaaap.

Kelar dengan wedang ronde, kami go ke acara lagi. Kali ini pementasan tari. Aku melihat pertunjukan tari yang ditampilkan anak-anak. Background panggungnya keren. Dibangun di tengah jeda rimbun pohon bambu. Dan para penari pun berjingkrak diatas tanah lapang. Aku dan Adib juga menonton pertunjukan Fara cs. Tarinya keren. Di mataku yang awal dunia tari, kulihat mereka luwes banget menari. Kayanya sih sudah dapat grade profesional. Mereka layak dengan itu. kami menikmati pertunjukan dengan beberapa butir kacang, singkong rebus dan teh hangat yang secara gratis disediakan penyelenggara. Enak.

Kami berniat pulang. Sebelumnya kita melihat banyak wahana anak yang dibuat oleh Ari cs. Banyak wahananya, saya enggak tahu apa aja. Yang paling besar terlihat namanya ‘terowongan berlutut’ kalau kagak salah. Selain itu juga ada ayunan, jungkal-jungkir dan apa lagi ya. Oh iya, meriam bambu haha. Katanya wahana ini akan tetap digunakan sebagai tempat bermain anak. Hal kerennya adalah semua wahana bermain menggunakan bambu. Tradisional dan aman. Ada juga galery kegiatan karang taruna. Kami hanya melihat sekilas saja. Udah gitu, pulang karena waktu tidur sudah sampai.


Festival dolanan bocah 2015 terselenggara dari tanggal 28-30 Agustus. Bertempat di kampung Salakan, Potorono, Banguntapan, Bantul (kalau enggak salah alamantya begitu). Kalau aku mau kesana sih biasanya lewat jalan Wonosari. Lurus terus sampai pasar Potorono, ada pertigaan belok kanan. Lurus lagi sampai ketemu masjid kanan jalan, dan terdapat gapura festival. Masuk situ, lurus aja. Ntar tempatnya pasti ketemu. Hal paling menggiurkan di festival ini adalah kamu tidak perlu bayar kalau mau masuk. Yeay!

Selamat Berkunjung!

Penampilan Tari | Source: Doc. faradigm

Salah Satu Dekorasi | Source: Doc. faradigm

Rabu, 26 Agustus 2015

Celoteh Kecil untuk Zenfone 4

Halo... Haha..

Kali ini saya mau review smartphone yang dirilis salah satu pabrikan Taiwan, Asus. Hm sebelumnya ini cuma pengalaman pribadi saja. Jadi mungkin masih kurang kalau dijadikan bahan rujukan. Tapi untuk sekedar penambahan wawasan, saya rasa cukup. Hehe... Jadi tulisan ini bukan fokus pada spesifikasi hardware atau software, tapi pada apa yang bisa saya lihat dan bagaimana saya memakai.

Semoga kebelakang tidak alay.

Mari kita urut dari awal. Saya membeli gadget ini seharga Rp. 1.000.000,. Pas. Enggak kurang enggak lebih. Saat itu ada  pameran TI di Yogyakarta. Untuk saat ini, harganya bisa turun atau mungkin naik. Cukup ekonomis sih mengingat spesifikasi yang ditawarkan juga lumayan.

Hal yang menjadi daya tarik saat beli adalah kapasitas RAM yang sudah 1Gb. Untuk smartphone di level yang sama, kebanyakan masih 512Mb. Prosesornya dari Intel berkecepatan 1,2Ghz. Karena chip-nya beda dengan smartphone kebanyakan, saya tertarik juga menjajal. Untuk pemakaian normal, dapur pacu smartphone ini sangat memadai. Kebetulan, saya juga bukan gamer atau oprekers. So, aplikasi yang ada install tidak banyak dan standard saja. Asal cukup untuk kebutuhan komunikasi dan pemakaian harian. Itu saja. Selama saya pakai, aplikasi berjalan baik. Cuma ketika saat multi tasking, dimana terlalu banyak window app yang terbuka, lag biasanya terjadi. Apalagi kalau sedang terhubung ke internet.

Nah ini kadang menimbulkan masalah, storage. Memang sih, saya tidak begitu banyak install aplikasi. Tapi kadang memang suka coba-coba (walau akhir-akhir ini mengurangi) install aplikasi yang sepertinya menarik. Semakin banyak aplikasi yang di install, semakin banyak pula ruang yang dibutuhkan untuk simpan data. 4Gb rasanya masih kurang sih. Udah gitu, aplikasi bawaannya lumayan. Jadi mengakali hal ini perlu rasanya menambah storage lewat micro SD (kartu memory maksudnya). Asus Zenfone 4 support up to 32Gb. Menambah storage lewat micro SD bisa jadi pilihan bijak, sebab low memory bisa memperlambat kinerja smartphone.

Baterai. Ah ini yang krusial. Cuma 1600mAh. Varian baterai yang lain lebih rendah, 1200mAh. Sangat cepat baterai ini mencapai titik minta isi ulang. Selain itu waktu isi ulang, menurut saya, agak lama. Lebih sejam 20 menit. Kalau sedang error entah kenapa bisa dua jam. Tapi tergantung sisa persen saya mencolok jala listrik. Kalau diatas 20%, ya tidak sampai 1 jam 30 menit. Saya rasa, kapasitas baterai ini kurang untuk pengguna aktif. Cepat habis. Kalau dipakai terus dalam kondisi terkoneksi internet, paling bisa bertahan sekitar 5 jam saja. Jika tidak terkoneksi bisa lebih lama. Tetapi bukan hanya jaringan yang berpengaruh pada umur baterai, aplikasi yang berjalan dan kondisi juga menentukan.

Layar oh layar. Saya enggak tahu ukurang pastinya, kalau enggak salah 4 inch. Dan bagusnya sudah gorilla glass 3. Keren kan? Kerapatan pikselnya cukup tinggi. Jadi tampilan layar baik lah.

My Black Trigger :D | Source: Zenfone 5 Cam
Modelnya juga bagus. Nyaman di tangan, tidak terkesan alay. Cuma agak tebal, dan agak licin sih. Baiknya, masih muat di saku celana. Enggak kebesaran. Cover belakangnya memiliki pilihan warna. Ada hitam, putih, biru, pink, merah dan entah apa lagi. Tombol daya dan volume tersedia di bagian pinggir kanan atas.

Paket pembeliannya (yang saya dapat) itu ya smartphone dan baterai tok. Enggak ada headset. Smartphone ini juga sudah dual sim. Jadi, nyaman untuk menyempatkan sim 1 untuk sekedar paket data. Wkwk.

Saat awal pembelian, smartphone ini di bekali dengan OS android KitKat. Firmwarenya masih agak lama, jadi tetap perlu diupdate. Asus Zenfone 4 sudah mendukung Lollipop. Dan saat ini, smartphone saya sudah mencicipinya. Yup, berisi material design deh. He.

Kamera, kayanya ini menarik di bahas. Untuk depan kayanya cuma 1,3 megapixel atau berapa gitu. Jelek deh hasilnya. Tapi berhubung saya enggak butuh jadi tidak masalah. Berbeda dengan kamera belakang yang 5 megapixel. Hasilnya bagus loh. Hanya saja  perlu di tempat yang banyak cahaya. Minusnya lagi, enggak ada flash. Sisi baiknya, software kameranya bagus. Pengaturannya cukup lengkap. Auto exposure, auto white balance, fitur editing dan lain-lain sudah mumpuni untuk pemakaian normal. Sepertinya Asus cukup serius disini.

Menyinggung aplikasi lagi. Meski banyak yang tidak saya manfaatkan secara maksimal, tapi aplikasi bawaan Asus itu bagus. Setidaknya cukup sebagai fitur ‘personal assistant’. Ya semacam note, memo, launcher, dll. Kalau perlu memberi nilai dari rentang 1 sampai 10, saya ngasih 7,5. Andai enggak ada bloatware (saya bilang begitu karena enggak saya rasa penting wkwk), nilainya bisa lebih tinggi. Dan untuk system UI, saya rasa user friendly.

Kalau bicara minus, ya tiap smartphone pasti ada. Soalnya tidak ada yang sempurna. Selama ini yang saya rasakan cukup mengganggu. Tapi ya, bagaimanapun kekurangan pada smartphone, kita harus cerdas mengakali. Kalau tidak bersabar sudah cukup. Barang elektronik ya begitu. Ok, salah satunya adalah cepat panas. Saya enggak tahu kenapa. Mungkin karena chipsetnya beda. Mungkin juga karena hal lain. Lalu, fitur bluetoothnya aneh, enggak bisa ngirim lebih dari dua file. Enggak tahu kenapa. Saya cari di setting untuk pengaturan itu malah tidak ada.

Ng mungkin itu saja yang bisa saya share. Misal anda membaca tulisan ini dan semacam menjadikan rujukan ya enggak masalah sih. Jika anda mencari ponsel lumayan dengan spesifikasi baik dan tidak mahal, ponsel ini (masih) layak dibeli.


See you...

Kamis, 02 Juli 2015

Dan Kutemukan Cahaya

29 Juni 2015 senada dengan 12 Ramadhan 1436

“Ok semua desainnya udah. Hm tinggal kirim ke e-mail mereka” pemuda itu pun meregangkan tubuhnya. Sudah dua jam dia berada di depan monitor, menyelesaikan pekerjaannya.

“Ng, ku simpan dimana ya alamat e-mail pak Hamid?” dia mencari iPhone-nya. Membuka notes yang menyimpan seluruh daftar alamat e-mail klien.

Dia tersenyum. “Ini dia”. Lalu pemuda itu mengetikkan alamat e-mail. Di akhir surel ia membubuhkan penutup:

Terima kasih atas kepercayaan anda untuk menggunakan jasa kami.
Salam hangat,

Afif Creative

“Wah udah jam 09.15. Pantes laper haha... Ok, cari makan dulu. Ng tapi dimana yah?” Afif berhambur keluar rumahnya.

Sejatinya dia cukup bingung untuk mencari makan dimana. Sebab bulan ini Ramadhan telah tiba. Sudah berlalu empat hari. Tentunya banyak warung makan yang menutup gorden siang hari, menghormati mereka yang sedang menahan lapar-dahaga. Meskipun tempat Afif tinggal bukan kompleks muslim, namun semua saling menghargai peribadatan.

“Ah mau masak belum beli bahan. Di dapur adanya cuma mie instan doang. Males dah” keluh Afif. Namun tiba-tiba sinar matanya berubah. Di depan rumahnya kebetulan ada tukang bakso lewat. Anggap saja tukang bakso nakal.

“Bang tunggu... Bakso seporsi!” kejar Afif setengah berteriak. Ia menghapiri abang bakso. Rombong itu berhenti, tepat di samping rumah Afif yang terdapat pohon mangga tanpa buah.

“Bungkus apa disini dek?” tawar abang bakso.

“Bungkus disini. Ntar aku makan disana” Afif memasang ekspresi usil sembari menunjuk rumahnya. “Ok” si abang bakso dengan sigap menyiapkan pesanan.

“Bang bakso juga ya. Dua porsi dibungkus” tiba-tiba ada dua remaja putri, tetangga Afif, juga datang membeli bakso. Mereka berpakaian rumahan, sedikit minim dan tanpa kerudung. Afif mengenali mereka, Bella dan Rika. Rumah mereka berada 20 meter dari arah timur rumah Afif. Rumah mentereng, besar dan luas. Maklum orang tua mereka pebisnis sukses. Dan kristiani yang taat.

“Beli bakso juga bang?” Bella bertanya pada Afif.

“Iya nih dek. Laper hehe” Afif menjawab sekenanya.

“Loh enggak puasa bang?” kali ini Rika yang bertanya.

“Enggak haha. Males” Afif nyengir panjang.

“Ah abang ini” Bella dan Rika hanya geleng-geleng kepala.
Pesanan Afif sudah selesai. Dia mengeluarkan uang dari saku celananya dan membayar dengan uang pas. “Makasih bang” Afif berlalu. “Bye Bella, Bye Rika” salam Afif.

“Ya abang..” keduanya menjawab kompak. Sebelum Afif benar-benar jauh dari mereka, dia sempat mendengar Bella dan Rika berbisik.

“Kasihan ya bang Afif. Padahal dua tahun yang lalu, pas kita masih SMA, dia muslim yang taat loh” bisik Rika pada Bella.

“Iya aku juga kasihan sih tapi ya mungkin itu pilihannya. Mungkin dia punya alasan. Eh ngomong-ngomong bang Afif kerja apa ya? Perasaan aku enggak pernah melihat dia kerja. Tapi bisa memenuhi kebutuhan harian dan ngurus rumah” Bella menimpali.

“Aku penasaran sih” detik berikutnya, Bella dan Rika bisu dalam kebingungan.

Afif mendengar hal itu. Dia punya telinga yang tajam. Namun dia enggan menanggapi dan hanya tersenyum. Dalam hatinya “Kalian tidak akan pernah tahu dan tidak akan pernah paham siapa aku sebenarnya”. Kriit... Afif menggeser gerbang depan rumahnya, sedikit lebih rapat.

###

Di dalam rumah, Afif menikmati makanannya. Dia hanya sendiri disana, tak ada orang lain. Namun itulah yang dia suka. Kesendirian membuatnya bisa lebih menikmati hidup. Dan lagi ia jarang bersosial. Kerjanya tiap hari hanya menyelesaikan orderan desain, jika ada. Walau bisa dibilang selalu ada. Dari situ, dia bisa mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan. Bayarannya besar. Sebab klien Afif biasanya merupakan perusahaan atau orang-orang kaya. Tidak hanya dalam negeri, bahkan kliennya juga dari luar negeri. Bisa dipastikan, rekening Afif sedang gendut. Dia punya stok bahkan untuk sepuluh tahun kedepan. Orang se-kompleks tak ada yang tahu bahwa Afif begitu kaya. Sebab ia bekerja secara underground;  mendesain, entah itu logo, pamflet atau apapun itu, tanpa dilihat banyak orang.

Afif tipe yang jarang bosan. Rutinitas hariannya yang monoton tak pernah mengganggunya. Jika dia merasa bosan. Dia akan keluar, jalan-jalan dan mencari suasana baru. Hal yang ia lakukan sesekali, tidak begitu sering.

“Ah kenyang” ia sudah menyelesaikan sarapan siangnya. Jam menunjukkan pukul 10.00. Masih belum sampai waktu tidur siang. Namun, ia merasa sangat mengantuk. Diliriknya sofa ruang tamu. Entah kenapa terasa menggoda. Aslinya, Afif enggan langsung tidur selepas makan. Khawatir kencing manis. “Eh tapi kalau enggak sering kayanya boleh deh”. Dia pun terlelap di sofa.  

Dan mimpi-mimpi terus berganti di kepalanya.

###
/1
“Afif yang sabar yah. Ayah dan ibu kamu insyaAllah mati syahid nak. Sabar yah. Ada bibi dan paman disini”. Afif kecil sudah menjadi yatim piatu. Ayah dan ibunya kecelakaan dalam perjalanan pulang dari tanah suci.

“Nak, paman dan bibi akan membiayai pendidikan dan semua kebutuhan kamu. Kami akan menjadi orang tuamu” Afif didekap oleh mereka. Paman dan bibinya. Si bibi adalah kakak dari ayah Afif. Keduanya begitu sayang pada Afif. Ditambah lagi, mereka tidak bisa memiliki keturunan.

Hati Afif sebenarnya sakit waktu itu. Kehilangan orang tua pada usia belia sangat membuatnya bingung. Tapi dia tidak menangis. “Tugasku bukan menangis tapi belajar dan berdoa. Untuk kebagahagiaan kedua orang tuaku” begitulah komitmennya.

/2
“Alhamdulillah nak kamu sudah lulus. Terbaik lagi. Kami bangga sekali” paman dan bibinya, atau lebih tepatnya orang tua, mendekapnya penuh haru.

Hari itu, kampus ITB menjadi saksi keberhasilan Afif. Seorang anak yatim piatu yang telah besar dan sukses dalam jenjang pertama pendidikannya. Gelar sarjana sudah dia kantongi. Selanjutnya adalah bagaimana menafkahi hidup dengan bekerja. Berusaha mandiri, untuk tidak bergantung pada paman-bibinya.

/3
“Bi, yang sabar ya bi. Bibi berdoa saja, semoga paman diterima disisi-Nya. Paman orang baik bi. Insyaallah bisa mendiami surga-Nya” Afif menangkan bibinya yang larut dalam air mata karena ditinggal sang suami. Paman Afif, meninggal dalam insiden lalu lintas.

Kala itu, Afif pernah mendengar kabar burung. Kematiannya pamannya di rekayasa. Ada oknum yang dicurigai atas hal itu. Karena kurang bukti, kasus tidak dapat diusut lebih dalam. Afif geram sebenarnya. Cuma dia memilih bersabar.

/4
Pukul 02.00 pagi. Afif bangun, menuju kamar mandi, berwudhu lalu menunaikan qiyamul lail. Sedang bibinya ada di dapur. Mempersiapkan makan sahur.

“Aaaaa... “tiba-tiba bibinya berteriak histeris. Terkejut, sontak Afif menuju dapur. Dan betapa terkejutnya dia mendapati bibinya bersimbah darah. Di jendela dapur, tampak seseorang berusaha keluar. Ia berpakaian serba hitam, sarung menutup mukanya, dan menggendong tas yang sepertinya berisi barang curian dari rumah ini. Maling. Dia menoleh kepada Afif.

“Woi!!! Bre****k!!” refleks, Afif mengambil gelas kaca dan melemparkannya pada maling tadi dengan keras. Tar... Lemparannya mengenai kepala maling itu. Ada noda darah yang mencuat darinya. Namun ia berhasil lolos.

/5
Di pemakaman bibinya dia menangis sedu. Kuburan baru itu berselebahan dengan kuburan orang yang lebih dulu meninggal, kubur suaminya. Puasa Afif otomatis batal. Tangisnya sudah terlalu. Untung disana tidak ada orang, jadi ia menumpahkan segala air matanya, yang dia simpan dari dulu.

“Bi... Kenapa ini terjadi bi? Kenapa bi?” Afif kekurangan kata untuk mendeskripsikan perasaannya. Dia menoleh pada kubur pamannya. Lalu teringat ketika kedua orang tuanya meninggal.

Dua hal yang dia pikirkan waktu itu. Tanggal kematian dan rasa percaya. Tanggal kematian orang tuanya, paman dan bibinya sama. Hari Jumat tanggal 13. Tahun dan bulannya berbeda. Entah kenapa dia merasa kesal dengan tanggal tersebut.

Lalu entah kenapa, karena kasus paman dan bibinya, ia jadi semakin malas bersosial. Mengurung diri menjadi kerjaanya setiap hari. Ramadhan kali itu begitu membuatnya berduka. Kehilangan bibi tercinta, yang dia anggap ibu sendiri, secara tragis di depan mata memberinya beban psikologis tersendiri. Semakin lama, puasanya tidak beraturan. Ibadahnya semakin longgar. Ia mulai merasa malas. Sangat.

###

“Ah!” Afif bangun tersentak dari tidurnya. Mimpinya yang berfragmen membuatnya berkeringat dingin. Mimpi tentang masal lalunya yang menyakitkan. Di luar, adzan menggema.

“Mungkin karena adzan itu aku bangun”. Dia melirik jamnya “Ng jam dua belas? Oh ya hari ini jumat yah”. Afif bangun dari sofa dan menuju kamar mandi. Bukan untuk berwudhu atau apa. Hanya sekedar untuk mencuci muka. Di kamar mandi dia bertanya-tanya “Kok aku bisa mimpi seperti itu ya? Sudah dua tahun bibi meninggal. Baru kali ini perasaan”

Dari kamar mandi, Afif bingung mau apa. Jumat terkesan tidak menyenangkan baginya. Ia melirik kalender. Hari ini tanggal 13 Juli. “Sial. Kena Jumat lagi. Ugh”.

Afif memilih membaca di kamarnya. Kebetulan hari itu dia belum membaca. Ia duduk di meja belajar dengan sebuah novel di tangan. Baru beberapa halaman. Dia berhenti. “Kok aku jadi kepikiran shalat ya?”

###

Bosan. Afif berjalan keluar. Di halaman rumah, yang bisa menjadi lapangan basket mini, ia bermain sendiri. Latihan dribling dan shooting. Basket adalah olahraga yang dia suka dari kecil. Bahkan pernah ia tekuni saat di SMA dan saat kuliah.

Meski siang, halaman rumah Afif memiliki atap. Sangat nyaman. Ia tidak kepanasan saat bermain basket. “Long rage shot..” teriaknya. Bola melambung dan deng..  Entah kenapa kali itu tidak masuk, membentur ring. Padahal Afif termasuk jago bermain basket. Bola tadi pun terlempar keluar pagar. Afif keluar halaman untuk memungutnya.

Dari jauh, Afif melihat perempuan berbaju pink nampak kebingungan. Dia menggendong tas punggung yang cukup besar. Tangan kanannya memegang selembar kertas. Sedang yang kiri menjinjing kardus ukuran sedang. Perempuan itu tampak sedang mencari alamat. Saat melihat Afif, ia berlari menghampiri. Dengan muka penuh harap dia berkata “Mas, boleh tanya enggak? Tahu alamat ini?”. Ia menyodorkan kertas itu.

“Hm... ini sudah dekat mbak” kata Afif. Ia mengenali alamat itu. “Nah, mbaknya tinggal lurus aja. Nanti sekitar tiga puluh meter akan ada perempatan. Lalu mbak belok kanan. Ada rumah bercat biru, nah disitu tempatnya”. Terang Afif panjang lebar.

“Rumah bapak Lathif bukan mas?” perempuan itu kembali bertanya.

“Iya mbak betul. Itu rumah bapak Lathif, rumah pak PT komplek ini. He” Afif nyengir.

Afif memperhatikan perempuan itu. Dari wajahnya, Afif tidak mengenali orang itu. Ia baru melihatnya hari ini. Mungkin bukan penduduk kompleks. Di mata Afif, perempuan itu cantik sekali. Setelah sekian lama, rasa itu mulai menumbuh kembali. Rasa yang biasanya kita sebut dengan ‘suka’. Pertama dan terakhir kali, dia merasakan hal itu pada Vika, teman sekelasnya yang kini sudah membina rumah tangga.

Perempuan itu mengenakan kacamata. Wajahnya dewasa, teduh dan sayu. Kulitnya kuning langsat. Posturnya bagus sekali. Secara fisik sangat proporsional. Dia mengenakan stelan baju pink, rok berwarna abu-abu dan kerudung pink yang bermotif bunga. Dia sangat baik dalam berhijab. Penampilannya rapih menutup aurat, tapi sangat kelihatan stylish dan elegan. Cara bicaranya pun halus dan sopan. Dari penglihatan Afif, dia tahu bahwa perempuan ini jauh lebih muda darinya. Sekitar dua sampai tiga tahunan. Afif tertarik dan penasaran. Ia mencoba bertanya.

“Emang mbaknya ada perlu apa ya sama pak RT? Oh ya, mbaknya bukan asli sini ya?”

Dengan tersenyum wanita itu menjawab “Oh ya mas saya bukan asli sini. Saya baru pindah kesini hari ini. Dan pak RT yang mas maksud itu ayah saya. Ayah baru pindah kesini tahun lalu kan mas? Kebetuluan waktu itu aku masih kuliah dan belum sempat berkunjung kesini. Nah sekarang aku udah lulus, jadi boyongan mas dan akan tinggal disini. Begitu” ia bercerita panjang lebar.

Ha? Anak pak RT? Kok aku baru tahu? Perasaan cuma Thufail sama Athifa deh. Apa dia yang paling tua ya? Baru tahu gua” batin Afif.

“Oh ya mas makasih banget yah udah ngasih tahu rumah ayah” lanjut perempuan itu. “Mas tinggal disini kan? Kapan-kapan aku bakal main deh. Eh iya, kenalin nama Aku Lidya. Kita tetangga-an kan? He” kata Lidya dengan ceria, tanggannya sudah terlipat di dada. Salam sungkem.

“Eh iya sama-sama mbak. Biasa aja. Oh aku Afif. Perkenalkan” Afif membalas salam sungkem Lidya.

Afif tahu betul rumah pak RT. Dan bahkan tidak akan lupa, berkat kejadian tahun lalu. Waktu itu, dia diadili warga sekompleks karena diduga melakukan tindakan teroris. Hal ini wajar saja karena Afif jarang keluar rumah dan kurang sekali bersosial. Seluruh bagian rumahnya diselidiki namun warga tidak menemukan apapun. Tentu saja karena Afif memang tidak melakukan apa-apa. Akhirnya dia dibebaskan, walau beberapa warga masih menaruh curiga. Sisanya, hanya geleng kepala dan bisu dalam kebingungan. Saat Lidya menyebut nama pak RT, syaraf ingatannya secara otomatis membawa Afif pada kejadian kala itu. Kejadian itu sangat ia benci, dan ia tutup rapat dalam ingatannya.  Cuma, entah kenapa ia tidak merasa marah meski secara tak sengaja Lidya membangkitkan kenangan pahitnya itu.

“Ok kak Afif aku pamit dulu yah. Keburu udah mau ketemu keluarga nih. Daaah...” Lidya berlalu dan melambaikan tangan. Tapi yang Afif ingat hanya senyumnya yang hangat.

Afif memasuki rumahnya. Kala itu, ia merasakan hal baru. Lidya, entah kenapa menyita perhatiannya dengan sangat. Ia tersenyum tanpa sebab.

Lalu, adzan ashar berkumandang. “Ng, kok aku jadi pengen shalat ya? Ah okelah. Mandi dulu baru shalat”. Ia menuju kamar mandi.

Semenjak kehilangan bibinya, Afif jadi jarang sekali shalat. Bahkan hampir tidak ada. Entah kenapa dia jadi malas sekali. Dalam setahun belakangan, shalat hariannya bisa dihitung jari. Per bulan bisa hanya sepuluh kali. Shalat jumat pun jarang-jarang. Apalagi puasa. Jebol, dan berlanjut ke hari ini. Ia kehilangan semangat beribadah.

Namun kali ini berbeda. Entah kenapa, Afif ingin melakukan shalat lagi. Mungkin hidayah-Nya sudah menyentuh hati yang kering. Mungkin Lidya-lah yang menjadi perantaranya. Inner beauty Lidya, sisi bercahaya seorang muslimah, telah menerangi nuraninya yang terlalu lama gulita.

“Allahu Akbar..” di mushalla rumahnya, ia kembali mengucapkan takbiratul ihram setelah sekian lama.

###

Hari sudah malam. Waktu telah sampai pada Isya. Para muslim, keluar untuk menunaikan shalat Isya dan Tarawih. Afif yang kurang kerjaan, selepas shalat Isya hanya di halaman rumah. Bermain basket. Tetangga yang lewat dengan rumahnya menatap Afif dengan enggan. Mungkin dalam hati mereka “Ni anak kok enggak tarawih sih? Masa kerjaannya di rumah terus? Ya Allah”.

Afif tidak peduli dengan semua itu. Dia tidak memikirkan anggapan orang lain “masa bodoh. Gua mau main basket. Haha”. Cukup banyak orang yang berlalu lalang. Mereka rata-rata bergerombol. Ada juga yang berjalan menyendiri. Beberapa.

Dari beberapa oranga yang menyendiri itu, Lidya adalah salah satunya. Afif melihat Lidya dari halaman rumahnya namun di membuang muka. Merasa malu. “Aduh kenapa ya? Kok aku mau dilihat Lidya” batinnya berkonflik. Antara malu dan suka. Pengen melirik, eh malu.

“Bang Afif... Enggak tarawih nih?” suara merdu itu menyapa Afif. Lidya melewati rumah Afif, tepat di depan pagarnya. Afif yang sedang bermain basket terlihat jelas di retina Lidya yang polos. Sebagai orang baru di kompleks itu, Lidya yang belum tahu apa-apa tentun akan bertanya-tanya dengan tingkah Afif.

“Eh? Hehe.. Enggak nih. Lagi M... Males. He” Afif nyengir. Dan dia bingung harus menjawab apa.

“Ha? Kok tarawih malas-malasan? Gimana sih?” Lidya bertanya usil. Ia tertawa kecil.

Ih... wajah usil kamu cantik banget... Huahaaaa... Aku jadi makin suka...” Mungkin wajah Afif memerah waktu itu, namun malam dengan rapi menutupnya dibalik keremangan. Sapaan ringan Lidya malam itu membuatnya kaget plus malu. “Ya, ibadah kan enggak bisa dipaksa Lidya. Itu sunnah kan?” Afif mencoba menguasai diri.

Lidya melongo. “Ya Allah abang. Sunnah iya, tapi muakkad loh. Dan lagipula, ini bulan puasa. Ibadah apapun pahalanya dilipat-gandakan. Enggak mau apa dapat pahala?” Lidya sedikit mengejar.

“Malam lain masih ada kok. Santai aja. Besok bisa lah” Afif masih ngeyel. “Ah yang penting kaga dosa. Ahaha...” lanjutnya.

“Iya deh. Aku duluan yah. Dah” Lidya berlalu. Sedang Afif mencari tempat duduk. Tubuhnya panas dingin, detak jantungnya masih kencang. Percakapan dengan Lidya malam, baginya, berada di level yang tidak biasa. “Ya Allah... Aku kok canggung gitu ya sama dia? Padahal kalau mau mengajak debat tak layani sampai pagi”. Afif berusaha tenang, menguasai diri.

“Apa jangan-jangan aku jatuh cinta ya? Eh masa sih?” Afif mertanyakan diri sendiri. “Jujur aku suka sama senyumnya, sikapnya, wajahnya, dan...” Lidah itu menjadi kelu. “Ya Allah...” Afif memasuki rumah.

Ia memasuki kamarnya. Berniat tidur. Sebelum berdoa tidur, dia berniat puasa. Dan matanya terpejam, untuk beberapa  detik. “Eh aku berniat puasa????!!!! Serius????” Afif tersentak, bangun dari tidurnya. “Ya Allah.. Kok bisa?”. Ia merebahkan diri. Membenarkan posisi bantal. “Eh, aku menyebut nama-Nya? Tanpa sadar?”.

Malam itu Afif dilanda kebingungan. Sebab tanpa sadar, dia mengucap lafadz ‘Allah’. Tanpa sadar dia telah berniat berpuasa.  Apapun itu, dia meyakini bahwa apa yang sudah terjadi merupakan pertanda baik. Satu-satunya alasan yang bisa dia cari untuk kejadian ini adalah Lidya. Afif tersenyum. Dan senyum itu terus terukir hingga waktu sahur.

###

Pagi itu Afif bersahur, shalat shubuh dan berpuasa. Semua ibadah hari itu lancar. Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya. Bahkan ia juga mengaji Al-Qur’an. Cuma, seperti malam sebelumnya, masih enggan untuk bertarawih bersama. Mungkin karena mushalla berisi banyak manusia, yang mengharuskannya bersosialisasi.

Malam itu, Afif bermain basket lagi. Dan seperti sebelumnya, Lidya mengajaknya bertarawih. Hasilnya? Sama saja, Afif tetap enggak meninggalkan ‘gua’nya. Meski begitu, Lidya tidak tampak marah.

“Besok malam, apakah Lidya tetap akan mengajakku bertarawih? Kalau iya...” Afif tersenyum dengan keputusan yang dia buat dalam hatinya.

###

Malam selanjutnya. Afif tetap bermain basket. Kali ini, jika Lidya mengajaknya shalat tarawih lagi, Afif akan mengiyakan.

Dan muslimah cantik itu kembali menyapa. “Abang... Tarawih..” ajaknya. Seperti biasa Lidya sendiri. Padahal dia bisa pergi bersama Ayah-bundanya, atau adik-adiknya. Namun, Lidya sepertinya berangkat lebih awal.

“Iya. Aku akan tarawih” Afif menjawab mantap.

Lidya terkejut dengan jawaban itu. Tidak cuma karena peng-iya-an Afif, tapi juga karena pakaian Afif, yang tekesan belum siap. “Serius bang? Kok bajunya gitu?” Lidya setengah tidak percaya.

“Maaf tidak malam ini. Besok” Afif berlalu. Memasuki rumah, dan meninggalkan Lidya dalam kebingungan.

“Loh?” namun Lidya tidak ambil pusing, ia bersegera ke mushalla.

###

“Eh bang Afif mana ya? Katanya mau tarawih kok enggak nongol?” Lidya menghadapi pemandangan tidak biasa. Rumah Afif berderang, tapi halaman depan itu kosong. Tak ada bola basket yang biasanya mematul dari telapak tangan pemuda itu.

“Mungkin sudah duluan kali ke mushalla” Lidya melangkah lagi, meninggalkan rumah Afif.
Lidya yang tidak tahu apa-apa tentang Afif menjadi penasaran. Baginya, Afif adalah orang baik. Ia tidak bertanya agamanya, tapi Lidya yakin Afif seorang muslim. Cuma, aneh saat Afif menolak diajak tarawih. Tidak hanya itu, keadaan rumah Afif juga membuat Lidya heran. “Apa bang Afif tinggal sendiri ya? Rumah itu besar tapi kaya sepi gitu” sepanjang jalan ke mushalla Lidya diliputi rasa penasaran. Dia tidak punya informasi dan mencari informasi apapun tentang Afif. Padahal ayahnya adalah pak RT, yang bisa dibilang tahu tentang berbagai hal utamanya berkaitan dengan penduduk kompleks.

Tapi Lidya tidak mengambil pusing hal itu. Dia hanya berhusnu dzan. “Enggak berguna berpikir yang aneh-aneh.

Tanpa terasa, Lidya sudah memasuki are mushalla. Mushalla itu luas. Asri. Entah kenapa Lidya merasakan kenyamanan dari tempat itu. Lidya mencari shaf dimana dia biasa shalat. Dia tetap menempati tempat itu. Ber-istiqomah. Ia menunaikan dua rakaat shalat tahiyatal masjid. Selanjutnya, berdzikir menunggu iqamah.

Crrsss.. Ada suara gemerincik air. Asalnya adalah tempat wudhu putra. Agak terpisah dari bagian putri untuk shalat. Cuma, tetap bisa kelihatan. Lidya yang mendengar akan bunyi air secara tak sengaja menujukan pandangan ke tempat wudhu. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat seseorang yang sedang berwudhu itu adalah dia yang malam itu tak Lidya temui; Afif.

Lidya tersenyum. “Eh tapi kenapa?” dia bingung kenapa harus tersenyum melihat seseorang berwudhu. Aneh memang. “Ah mungkin senang karena bisa melihat dia tarawih lagi” batinnya. Lalu, iqamah pun dikumandangkan.

###

Selepas tarawih, Lidya pulang kembali. Kali ini dia bersama Thufail, adik laki-lakinya. Lidya kembali terkejut ketika Thufail memberinya selembar kertas terlipat. Saat Lidya bertanya dari siapa, Thufail menjawab “Dari mas Afif mbak. Katanya sih makasih. Enggak tahu apa”.
Lidya yang penasaran membuka lembaran itu, ada degub kencang di dadanya. Dan saat lipatan terbuka, Lidya tercengang. Isinya begini:

Untuk Alifah Maulidya

Saya sudah kembali. Terima kasih sudah membuat saya keluar dari gulita itu. Terima kasih sudah membangunkan saya dari hibernasi yang menyesakkan. Terima kasih sudah mengingatkan saya akan hal penting yang terlupa.
Terima kasih, cahaya.

Salam,
Muhammad Afif Humaini

Lidya bingung dan terkejut atas surat itu. Dia bingung atas maksud yang terkandung di surat itu dan terkejut karena entah mengapa Afif memberinya surat yang tak ia mengerti.

“Dek, paham isi surat ini enggak?” Lidya menyodorkan surat itu kepada Thufail. Dia membacanya, lalu tersenyum nakal.

“Cie dapat surat dari mas Afif cie.... Isinya juga puitis bangets... Cie... Haha” Thufail menertawakan kakaknya.

“Ih seriusan ini. Malah ketawa” Lidya dibuatnya kesal.

“Pis mbak. P E A C E... He..” Tetap, Thufail dengan wajah isengnya. Seakan tidak bersalah. 

“Mungkin kak Afif, ingin berterima kasih karena sudah membuatnya sadar kak”.

“Sadar? Dari apa?” Lidya mengejar keterangan dari adiknya.

“Oh iya ya kakak enggak tahu. Gini, mas Afif itu sudah dua tahunan enggak aktif beribadah. Kayanya sih, karena bibinya meninggal. Tapi menurutku, mas Afif punya cerita pahit yang lebih dari itu. Aku enggak pernah lihat di shalat jumat loh mbak. Aku juga enggak yakin dia sehari-hari shalat. Udah gitu, dia jadi mengurung diri terus. Jarang kan ngeliat dia keluar?” Thufail bercerita semua yang dia tahu.

Hah? Serius bang Afif punya cerita begitu? Waduh enggak nyangka” Lidya menyimpan ke-terkejutan-nya dalam hati. Ia menyembunyikan hal itu dari adiknya.

“Nah surat itu, menurutku, adalah bukti bahwa dia sudah kembali lagi menjadi muslim yang taat kak. Buktinya, malam ini shalat tarawih. Dan mas Afif berterima kasih atas hal itu sama kaka. Gitu.” Lidya mangut-mangut dengan jawaban Thufail. Meski masih SMP, Thufail adalah anak cerdas. Analisnya barusan cukup tajam untuk anak seusianya dan untuk hal yang seharusnya belum dia sentuh.

“Eh yang ngasih tahu nama lengkap kakak, kamu ya? Harusnya dia cuma tahu nama panggilan kakak aja” Kali ini Lidya menaruh curiga pada adiknya.

“Ha? Enggak lah kak buat apa?”

“Serius??”

“Ya Allah.. Kakak enggak percaya aku? Ya enggak papa sih. Kalau percaya sama aku, syirik namanya. Haha” Thufail masih saja bercanda.

“Thufail...” Lidya mulai gemas, ingin dia mencubit pipi adiknya.

“Hehe.. Ah kakak enggak bisa diajak becanda nih. Ntar cepat tua loh” Thufail aslinya memang suka bercanda. “Kakak enggak tahu mungkin, tapi mas Afif itu hacker. Keren kan? Aku enggak tahu memang dia dapat nama kakak darimana. Tapi baginya itu hal mudah. Bisa aja kan, lihat di database kelurahan. Daftar nama ayah, contohnya, juga tertera disana. Nama kakak juga ada meski tidak tinggal disini” lagi, Thufail memaparkan analisisnya.

Lidya terdiam. Jawaban adiknya sangat masuk akal. Lagipula, dia belum banyak tahu tentang Afif. Hal mendasar yang dia tahu adalah Afif sekarang sudah berubah. Dan atas perubahan itu Lidya juga turut gembira.

###

Perubahan Afif tentu membuat masyarakat se-kompleks kaget. Dimulai dari malam dia shalat tarawih pertama, ia terus saja beribadah. Dia rajin ke masjid. Tidak hanya tarawih tetapi juga shalat lima waktu, dia lakukan secara berjamaah di mushalla. Shalat jumat pun demikian. Afif juga mengikuti tadarus bersama saat tarawih usai.

Tidak cuma itu, secara sosial Afif semakin baik. Pagi dia mengitari kompleks untuk jalan-jalan. Sore membeli menu buka di samping rumahnya. Ada tetangganya menjual segala jenis makanan dan minuman manis. Takjil beraneka warna.

Afif juga semakin akrab dengan Lidya dan keluarga. Meski sering salah tingkah saat bertemu Lidya, namun komunikasi tetap berjalan normal.

Warga se-kompleks turut senang dengan Afif yang sudah kembali. Sebab, Afif aslinya adalah pribadi yang hangat dan disenangi semua kalangan. Dia baik. Suka membantu orang. Terbukti setelah ia insaf, Afif membantu mengajar anak TPA mengaji. Dia juga membantu pak Bambang, tetangganya yang kala itu sedang membangun rumah. Namun, Afif tetap bisa menyimbangkan perubahan itu dengan pekerjaannya.

Bulan Ramadhan itu, terasa manis bagi Afif. Ia merasa terlahir kembali.

###

“Allahu akbar... Allahu Akbar...” takbir menggema menyambut hari fitri yang tiba. Pagi itu, selepas shalat Id Afif bersiap di rumahnya. Ia akan bersilaturahim ke rumah pak Lathif.

“Alhamdulillah... Berkat kamu Lidya, saya bisa kembali lagi mengecap nikmatnya iman. Saya merasa nyaman. Diri saya yang lama, pemuda tanpa bekas wudhu, sudah saya tinggalkan. Inilah Afif yang baru, yang semangat menggapai ridha-Nya”.

Dengan pakaian terbaiknya yang baru dibeli empat hari sebelum Idul Fitri, Afif berjalan menuju rumah pak Lathif. Dia ringan ia menapaki jalanan kompleks. Sepanjangan perjalanan, ada satu nama yang terus beresonansi dihatinya; Lidya. Sepanjang perjalanan ada maksud baik yang ingin ia utarakan; khitbah.

Debaran itu terasa

Sebutir rasa yang terus membesar karena pesona seorang muslimah

Adalah fitrah untuk menjalani dunia fana berdua

Melengkapi separuh agama adalah jalannya

Akan tiba masa, saat kamu mendambakan dia;

Yang kan melenggapi kealpaanmu, yang kan mengingatkan khilafmu, yang kan menemani jihadmu

Berdua dengannya akan lebih baik dalam meneguhkan diri di jalan taqwa, bersama lebih bisa untuk meraih ridha-Nya

Dia akan menjadi madrasah pertama dan perpustakaan utama bagi putra-putrimu

Carilah...

Sebagaimana telah Muhammad SAW anjurkan dalam haditsnya;

Yang baik agamanya, yang rupawan parasnya, yang dimudahkan hartanya, yang dibaguskan nasabnya

Ukhti, engkau kah separuh agamaku?

Dinda, engkau kah bidadari itu?

Sayang, itukah dirimu yang tak bosan kala kupandang, dan membuat rindu kala jarak membentang?

Seberwarna taman bunga, begitulah suasana hati Afif. Rumah biru itu sudah dihadapan mata. Di halaman depan, tersembunyi dibalik rimbun belantara mawar, seorang muslimah cantik berpakaian orange tengah mengguyurkan air pada mawar-mawar merah.

Pemuda itu tampak canggung kala melihatnya. Tak lama, wanita itu menyadari akan seorang tamu yang hendak berkunjung. Ia pun merasakan kecanggungan yang sama. Ada kesan kaku diantara keduanya meski sudah sering bersua. Ada ekuivalensi rasa yang tidak bisa ditutupi. Keduanya saling melempar pandangan lalu senyuman. Dan beku dalam kebisuan yang manis.

Detik berikutnya, ada langkah kaki yang mantab memasuki pekarangan sang bidadari. Akhirnya sang akhi mampu berkata “Assalamuaikum...”.


Di rumah itu, berawal sebuah masa depan indah. Masa depan dibawah atap sakinah, mawaddah wa rahmah. Bahtera rumah tangga itu dilalui seorang pemuda yang telah menemukan jalannya kembali bersama sang istri yang telah menuntunnya memperbaiki diri. 

Enlightenment | Source: Doc. faradigm
Tersedia juga di wattpad. Berikut link-nya:
https://www.wattpad.com/144107435-dan-kutemukan-cahaya