Total Tayangan Laman

Minggu, 13 April 2014

MESTAKUNG (Semesta Mendukung)



Disutradarai oleh John-De Rantau, Mestakung merupakan film yang menceritakan tentang seorang anak dari keluarga kurang mampu dan broken home, Muhammad Arif (Sayev Muhammad Billah) yang mampu menyabet medali emas di panggung fisika dunia. Berlatarkan Sumenep, ujung timur pulau Madura, Mestakung adalah film yang terinspirasi oleh prestasi siswa-siswa Indonesia dalam menggarumkan nama bangsa di pentas sains internasional. Nama Mestakung diambil dari gagasan Prof. Yohanes surya, yang berarti bila kita sungguh yakin akan apa yang kita lakukan, maka semesta akan mendukung kita.
            Arif adalah seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menyukai fisika. Di sekolahnya ia merupakan anak yang menonjol dalam bidang sains. Ia anak yang semangat dan rajin sekolah. Sepulang sekolah ia harus bekerja di bengkel untuk mengumpulkan uang. Dibalik semua itu, dalam keluarga Arif terjadi masalah rumah tanggal yang berat, ibu Arif -Salimah (Helmalia Putri)- minggat dari rumah lantaran pertengkaran suami istri. Motifnya karena ayah Arif -Mutlah (Lukman Sardi)- adalah seorang penjudi. Tapi Arif menyimpan semua itu dan tetap semangat sekolah.
            Di sekolahnya, ada guru yang diam-diam memiliki perhatian khusus pada Arif. Adalah Tari Hayat (Revalina S. Temat), guru pindahan dari Jakarta, yang terpesona melihat bakat spesial Arif. Suatu saat ia mengajak Arif untuk mengikuti olimpiade fisika antar provinsi walau akhirnya gagal karena ketebatasan dana. Namun, sejak saat itu Arif menjadi semakin terpacu mendalami sains. Puncak perhatian Bu Tari pada Arif ketika Arif mengambil bola yang nyangkut di atas pohon dengan keakuratan menembakkan roket air. And The Story Begins… Kejadian yang direkam kamera ponsel Bu Tari, telah membuat ketua tim FUSI (Fisika Untuk Siswa Indonesia), Tyo Johannes (Ferry Salim) tertarik memasukkan Arif mengikuti seleksi tim FUSI untuk mengikuti olimpiade fisika internasional di Singapura. Akhirnya, Arif berangkat ke Jakarta dengan dua harapan, memenangkan olimpiade dan bertemu ibunya.
            Hal yang tidak mudah berada di asrama FUSI. Arif harus belajar ekstra untuk dapat bersaing dengan siswa-siswi dari berbagai provinsi indonesia yang rata-rata jago dan lebih tua darinya. Ia bertemu Bima Wangsa (Rangga Raditya) saingannya yang angkuh, berteman dengan Muhammad Husni Thamrin (Angga Putra) dan Saverina Kapasiang (Omeyga Rossye) dan terpesona oleh Clara Annabella (Dinda Hauw) yang selalu men-supportnya. Arif putus asa saat nilainya jeblok lalu ia memutuskan pulang ke Madura. Tapi ditengah derasnya hujan, ia bertemu Cak Kumis (Indro Warkop), pedagang ketoprak asal Madura. Cak Kumis secara tidak langsung memotivsi Arif untuk tidak putus asa dan melakukan sesuatu sepenuh hati. Sejak saat itu Arif bertekad untuk tetap pada jalannya. Ia jadi semakin giat belajar. Usahanya membuahkan hasil. Dari ranking terbawah Arif di tim FUSI, ia terus naik mendekati enam besar yang akan mewakili indonesia ke Singapura. Arif pun termasuk dalam kelompok itu tapi karena ada bonus dari sponsor.
            Di Singapura, pada awalnya Arif Cuma mencari ibunya dan kecewa karena tak membuahkan hasil. Tapi berkat Clara ia kembali semangat dan terus mengikuti lomba sepenuh hati. Akhirnya, kesungguhannya membuahkan hasil. Arif berhasil menjadi yang terbaik dari sekian peserta. Ia begitu bahagia dapat mengharumkan nama bangsa. Tidak cukup sampai disitu, kebahagiaannya bertambah karena ia disambut ibunya ketika kembali ke Madura. Semesta benar-benar mendukung Arif.
            Hal yang perlu menjadi catatan dari film ini adalah pengaturan scene yang lebih tepat. Salah satunya adalah video ibu Tari tentang aksi Arif. Antara hasil video yang direkam Bu Tari dan yang dikirimkan pada Pak Tyo sudut pengambilannya berbeda. Pada video yang dilihat Pak Tyo, terlihat bahwa bola jatuh setelah dikenai roket air setelah Arif dan temannya memompa roket air. Tidak demikian pada pengambilan video Bu Tari, malah sebaliknya. Roket dipompa baru kamera mengikuti roket air yang menjatuhkan bola. Lalu, tentang penggunaan bahasa Madura. Dapat dimaklumi bahwa aktor masih belum sepenuhnya mengusai bahasa Madura, tapi yang perlu dipikirkan adalah intensitas. Apakah akan terus berbahasa Madura atau berbahasa Indonesia? Di film ini cuma sekedarnya saja bahasa Madura disuarakan. Itupun masih kaku.
            Terlepas dari hal diatas, film ini patut diberi nilai A. Karakter tokoh utama yang kuat, cuplikan panorama alam Madura yang menyegarkan mata, kuatnya nilai-nilai persahabatan, kebersamaan, nasionalisme, tatakrama yang sopan dan santun, tidak pernah putus asa dan selalu semangat, dan penguasaan aktor pada peran. Semuanya bagus. Amazing! 

Resume
Judul Film              : Mestakung (Semesta Mendukung)
Sutradara               : John-De Rantau
Besutan                  : Mizan Productions dan Falcon Pictures
Durasi                    : 01:37:38
Peresume               : Akmal F.